Di depan ruang kelas, berdiri seorang guru muda yang penuh gairah. Ia sedang menjelaskan konsep peta dengan menggunakan Google earth. Para siswa menyebutnya Pak James Mansula, guru Geografi yang baru dimutasi beberapa bulan lalu. Mereka mungkin melihatnya sebagai guru yang berpengalaman dengan metode mengajar kreatif dan menyenangkan. Namun di balik penampilannya yang tenang dan ramah, tersimpan sebuah kisah perjalanan pengabdian dari pedalaman hutan Papua, melalui berbagai sudut ruang kelas hingga akhirnya berlabuh kembali ke tanah kelahirannya di Kota Karang, Kupang.
Kisah
Pak James, layaknya sebuah peta perjalanan panjang yang harus melewati berbagai
tantangan. Peta perjalanan itu dimulai pada 2015 di Bumi Cenderawasih, Papua.
Dari titik itu, lahirlah ribuan pendidik di garda terdepan bangsa lewat Program
SM-3T (Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal); sebuah
program yang dirajut dari benang-benang pengabdian penuh tantangan, air mata,
kerja keras, kerinduan dan kasih yang tak terucap pada anak-anak Ibu Pertiwi.
Babak Satu: Baptisan Api di Citak Mitak (2015)
22
Agustus 2015, seorang James muda, setelah lulus dari bangku kuliah dengan penuh
optimisme berangkat untuk merajut masa depan. Tak tanggung-tanggung, keputusan besar
yang dibuatnya membawa langkahnya menyeberangi ribuan kilometer lautan dan menepi
di SMAN 1 Citak Mitak, Provinsi Papua.
Awal
bertugas, James dan warga sekolah sudah harus berjerih lelah untuk membangun
ruang kelas darurat. Kelas berdinding kayu hutan dan beratap daun sagu menjadi
tempat belajar yang nyaman untuk memupuk harapan akan masa depan. Walaupun di
tengah keterbatasan, ia yakin dari kelas befak
(gubuk) ini akan lahir pemimpin-pemimpin hebat di masa depan.
Citak
Mitak bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Sebuah distrik yang terletak
di Kabupaten Mappi ini, didominasi oleh rawa-rawa dan sungai-sungai besar yang
menjadi jalan raya. Tanpa sinyal dan internet, perkembangan dunia luar
betul-betul tak tersentuh. Mengajar di sini berarti melampaui kurikulum.
James
menceritakan dalam sebuah percakapan, "Saat pertama kali tiba, saya
menyadari bahwa buku teks Geografi yang saya bawa nyaris tidak terpakai." Bagaimana
ia bisa menjelaskan tentang urbanisasi kepada siswa yang desa terdekatnya harus
ditempuh berjam-jam dengan ketinting? Bagaimana ia menjelaskan tentang zona
iklim global ketika dunia mereka adalah hutan hujan tropis yang abadi?
Di
tengah keterbatasan, kreativitas James mulai terbentuk. Sebagian besar materi
ajarnya yang kaku, ia buang. Ruang kelasnya berpindah dari bilik berdinding kayu
hutan ke alam terbuka. Sungai menjadi laboratoriumnya untuk menjelaskan banjir
dan sedimentasi. Hutan menjadi perpustakaannya untuk mempelajari flora dan
fauna. Tantangannya bukan hanya soal fasilitas. Listrik hanya menyala dari
pukul 6 sore hingga 12 malam, air bersih adalah kemewahan yang langka, dan
sering kali ia harus mengajar siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar.
"Dari
anak-anak Papua, saya belajar bahwa guru bukan hanya sebagai pengajar,"
katanya. "Saya adalah figur kakak, motivator, dan yang terpenting, saya
adalah jembatan; jembatan antara adat istiadat mereka yang kaya dengan pengaruh
dunia luar yang mendesak masuk."
Setahun
di Citak Mitak, tak hanya menempa James menjadi guru yang kreatif, tetapi juga
menjadi pribadi yang tangguh. Ia belajar budaya lokal, mandi air keruh, minum
air hujan, makan ulat sagu dan masuk hutan. Ia juga memahami bahwa Geografi
bukanlah ilmu hafalan tentang peta, tetapi ilmu tentang bertahan hidup dan
beradaptasi dengan lingkungan. Papua telah membaptisnya dengan api. Ia tidak
hanya mengajar Geografi; ia hidup di dalam ilmu Geografi itu sendiri.
Pengalaman
hidup yang luar biasa di pedalaman Papua, membawa James pada sebuah mindset baru, bahwa untuk sebuah
pengabdian, semangat saja tidak cukup. Pengabdian membutuhkan sesuatu yang lebih,
yaitu profesionalisme. Pada tahun 2016, ia harus berpisah dengan orang-orang
baik di Tanah Papua. Ia pulang bersama kenangan yang tak ternilai dan kerinduan
yang mendalam akan rumah. Tetapi, ia tak berhenti di situ.
James
melanjutkan perjalanan panjangnya ke Universitas Nusa Cendana lewat PPG
Prajabatan SM-3T selama setahun. Ini adalah langkah yang masuk akal. PPG
Prajabatan SM-3T menjadi wadah bagi mereka yang telah merasakan kerasnya
kehidupan di garis terdepan Ibu Pertiwi. Di Papua ia belajar dari alam yang
keras, di bangku PPG ia belajar dari banyak teori. Ia kembali menyelami ilmu pedagogi,
psikologi pendidikan, dan desain kurikulum. Ia, yang terbiasa mengajar di bawah
pohon, kini harus belajar merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
sistematis sesuai tuntutan kurikulum.
Bagi
sebagian orang, ini mungkin sebuah kemunduran. Namun, tidak bagi James. Ia
melihatnya sebagai proses menempa besi menjadi pedang. Pengalaman lapangannya
di Papua adalah baja mentah; PPG Prajabatan adalah api dan palu yang
membentuknya menjadi senjata kokoh dan tajam. Di Papua ia belajar 'apa' dan
'mengapa' menjadi seorang guru. Di PPG Prajabatan, ia mendalami 'bagaimana'
cara mengajar dengan lebih baik, terukur, dan berdampak.
Namun,
pilihan menjadi seorang pendidik profesional tidaklah mudah. Ada jurang terjal
yang harus dilalui. Setelah memegang sertifikat pendidik, statusnya tidak
serta-merta berubah. Pada tahun 2018, sembari menunggu peluang seleksi CPNS,
James mendedikasikan dirinya sebagai guru honorer di SMAS Reformasi Plus.
Era
“honorer” adalah babak ujian kesetiaan. Ini adalah periode dilematis bagi
banyak guru: bekerja dengan beban yang sama (atau bahkan lebih) dengan guru
PNS, namun dengan pengakuan dan kesejahteraan yang jauh sangat berbeda. SMAS
Reformasi Plus, sebuah sekolah swasta yang mengadopsi sistem pendidikan luar
negeri, semakin membuka wawasan berpikir James. Sekolah ini membentuk James
menjadi guru yang dapat berpikir dari sudut pandang yang berbeda. KUDIC Prosadar (Knowing, Understanding, Doing, Inovation, Character, Program Siswa Ajaib dan Dahsyat Reformasi), sebuah model pembelajaran yang diadopsi
sekolah-sekolah reformasi, membuat James
semakin menjadi guru yang kreatif.
Di
sinilah pelajaran dari Citak Mitak kembali berguna. Ia menginisiasi Klub Geografi dengan pembuatan peta
timbul dari serbuk kayu, mengubah bentuk kelasnya menjadi lebih berwarna dan penuh
dengan inovasi serta proyek-proyek inovatif lainnya.
Ia
membuktikan bahwa status honorer bukanlah penghalang untuk berdampak. Baginya,
mengajar di SMAS Reformasi Plus adalah tentang menjaga api gairah itu tetap
menyala di tengah penantian. Itu adalah ujian integritas; apakah ia mengajar
karena pekerjaan, atau ia mengajar karena passion?
James memilih yang kedua.
Babak Tiga: Mengakar di Tanah Malaka (2019—2024)
Penantian
itu berakhir pada tahun 2019. Doa dan usahanya direstui oleh Yang Maha Kuasa.
James resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di SMAN
Bolan, Kabupaten Malaka.
Malaka,
sebuah kabupaten di Pulau Timor yang berbatasan langsung dengan negara Timor
Leste, menyajikan lanskap geografi yang sama sekali berbeda dari Papua. Jika
Citak Mitak adalah tentang air, rawa, dan hutan lebat, maka Malaka adalah
tentang hamparan sawah yang luas, tanah yang subur dan tantangan banjir saat musim
hujan.
Di
sinilah James benar-benar "mengakar". Status PNS memberinya
stabilitas yang ia butuhkan untuk membangun program jangka panjang. Ia tidak
lagi sekadar "bertamu" seperti di Papua. Ia adalah bagian dari
sistem, bagian dari komunitas dan bagian dari keluarga besar Malaka.
Di
SMAN Bolan, julukan "Guru Geografi Kreatif"-nya semakin bersinar. Ia
melihat alam Malaka bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai laboratorium raksasa
untuk bereksperimen.
Di
tahun pertamanya bertugas, James memelopori proyek-proyek yang bersentuhan
langsung dengan kehidupan mereka. Ia membimbing siswanya membuat pameran peta
timbul. Belasan peta timbul telah dihasilkan oleh kelas geografinya Pak James.
Ia mengajari anak-anak membuat media pembelajaran sederhana menggunakan bahan
lokal berupa tanah dan rumput. Karya ini bahkan diapresiasi oleh Badan
Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi NTT sebagai Peserta Terbaik Apresiasi Karya
Inovasi Guru dalam acara Puncak Festival Kurikulum Merdeka Tahun 2024.
Ia
rajin melaksanakan home visit untuk
mengetahui lebih dekat tentang kehidupan siswa-siswanya. Ia tak hanya mengajar
di kelas. Ia mengajak anak-anak masuk ke hutan mangrove untuk mempelajari lebih dekat tentang ekosistemnya. Tak
sampai di situ, ia bergabung menjadi relawan Komunitas Belajar OKL Street
Library untuk membagikan ilmu kepada anak-anak di pelosok Desa Railor, Malaka.
Pada tahun 2024, ia juga membawa nama SMAN Bolan untuk tampil di ibu kota
provinsi pada acara gelar wicara Jambore GTK Hebat lewat program “Berkat” yang
merupakan akronim dari berkarya dengan kertas.
Saat
masa pandemi, work from home menjadi salah
satu batu loncatan penting bagi James mengasah berbagai keterampilan. Ia belajar
tentang cara membuat video, menulis artikel sederhana, melukis, cipta puisi dan
menggambar grafiti. Bahkan, keterampilan menggambar grafiti membawa namanya
melambung tinggi di tingkat nasional. Ia terpilih menjadi salah satu pemenang
dalam acara Pekan Inspirasi Tanah Air (PITA) yang diselenggarakan oleh Zenius, platform
edukasi online. Ia juga diundang sebagai narasumber untuk berbagi dalam acara
tersebut.
Selama
hampir enam tahun di Malaka (2019 hingga akhir 2025), SMAN Bolan memberikannya
ruang yang begitu luas untuk terus belajar. James menjadi sosok yang integral.
Ia membangun sebuah "warisan" kecil. Ia melihat siswa yang ia bimbing
dari kelas 10, lulus, dan beberapa di antaranya melanjutkan kuliah, bahkan ada
yang sudah sukses menjadi guru, TNI, Polri dan lain sebagainya.
Di
Malaka, James belajar tentang etika birokrasi, tentang membangun jaringan
dengan komunitas, dan tentang arti sesungguhnya dari stabilitas dalam
pengabdian. Ia matang sebagai seorang guru dan seorang pemimpin di komunitasnya.
Ia telah membuktikan bahwa seorang guru PNS pun bisa tetap idealis dan kreatif,
tidak terjebak dalam rutinitas administratif.
Babak Empat: Pelabuhan Baru, Tantangan Baru (2025—Sekarang)
Peta
perjalanan James kembali bergeser pada tengah tahun 2025. Doa membawanya ke
SMAN 13 Kupang. Perjalanan pulang ke kota yang lebih besar, sebuah pelabuhan
baru, kota kelahiran.
Kupang
adalah dunia yang berbeda lagi. Ini adalah ibu kota provinsi. Tantangannya
bukan lagi isolasi fisik seperti di Papua, atau keterbatasan fasilitas seperti
di Malaka. Tantangan di SMAN 13 Kupang bersifat urban: siswa yang sangat
terekspos pada gawai, tantangan moralitas perkotaan, dan ekspektasi akademik
yang mungkin lebih tinggi.
Bagi
James, ini adalah babak sintesis. Pengalaman 10 tahun di depan kelas menjadi
bekal yang berharga. Pelajaran penting di pelosok kini ia gunakan untuk
beradaptasi dengan lingkungan baru yang melek digital. Profesionalisme di PPG,
ia gunakan untuk menghadirkan pembelajaran berbasis teknologi yang menarik di
kelas. Integritas yang telah dibangun sejak masih honorer menjadi fondasi yang
kuat. Kreativitas selama di Malaka, kini dapat ia terapkan dengan dukungan yang
cukup memadai.
Baginya,
anak-anak di Kupang punya akses informasi yang lebih baik, tetapi mereka juga
membutuhkan hal yang sama, seperti di Citak Mitak dan Bolan. Mereka butuh
didengar, bimbingan dan inspirasi.
Sepuluh
tahun sudah, 2015 hingga 2025. Dari SMAN 1 Citak Mitak, ke bangku PPG, mampir
di SMAS Reformasi Plus, mengakar di SMAN Bolan, dan kini berlabuh di SMAN 13
Kupang.
Peta
perjalanan karier James Mansula adalah sebuah atlas pengabdian. Ia telah
mengajar di tiga lanskap Geografi paling khas di Indonesia Timur: Hutan Rawa
Papua, Dataran Rendah nan Subur Malaka, dan Pinggiran Kota Kupang.
Pada
peringatan Hari Guru ini, kisah James adalah pengingat yang kuat. Menjadi guru
bukanlah tentang mencari zona nyaman. Ini adalah tentang bergerak, beradaptasi,
dan meninggalkan jejak di setiap tempat yang disinggahi.
James
Mansula, Sang Guru Geografi, telah membuktikan bahwa pelajaran terbaik bukanlah
yang tertulis di buku teks. Pelajaran terbaik adalah kehidupan guru itu sendiri.
Ia tidak hanya mengajar Geografi; ia adalah Geografi itu sendiri—sebuah bentang
alam yang dibentuk oleh erosi tantangan, disuburkan oleh hujan pengabdian, dan
kini, di Kupang, siap menumbuhkan benih-benih baru.
Perjalanannya
masih panjang. Namun, satu dekade ini telah meletakkan fondasi yang kokoh.
Seperti yang sering ia katakan kepada murid-muridnya sambil menunjuk peta,
"Bukan tempatnya yang membuat kita hebat, tetapi apa yang kita lakukan di
tempat itu. Di mana pun kamu ditempatkan, jadilah pembuat peta, bukan sekadar
pembaca peta."
Selamat
Hari Guru, Pak James Mansula. Teruslah menjadi kompas bagi generasi muda.
Oleh: James Gerson Mansula

.jpeg)

