Rabu, 26 November 2025

Dari Belantara Papua ke Kota Karang Kupang: Satu Dekade Merajut Pengabdian



Di depan ruang kelas, berdiri seorang guru muda yang penuh gairah. Ia sedang menjelaskan konsep peta dengan menggunakan Google earth. Para siswa menyebutnya Pak James Mansula, guru Geografi yang baru dimutasi beberapa bulan lalu. Mereka mungkin melihatnya sebagai guru yang berpengalaman dengan metode mengajar kreatif dan menyenangkan. Namun di balik penampilannya yang tenang dan ramah, tersimpan sebuah kisah perjalanan pengabdian dari pedalaman hutan Papua, melalui berbagai sudut ruang kelas hingga akhirnya berlabuh kembali ke tanah kelahirannya di Kota Karang, Kupang.

Kisah Pak James, layaknya sebuah peta perjalanan panjang yang harus melewati berbagai tantangan. Peta perjalanan itu dimulai pada 2015 di Bumi Cenderawasih, Papua. Dari titik itu, lahirlah ribuan pendidik di garda terdepan bangsa lewat Program SM-3T (Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal); sebuah program yang dirajut dari benang-benang pengabdian penuh tantangan, air mata, kerja keras, kerinduan dan kasih yang tak terucap pada anak-anak Ibu Pertiwi.

Babak Satu: Baptisan Api di Citak Mitak (2015)

22 Agustus 2015, seorang James muda, setelah lulus dari bangku kuliah dengan penuh optimisme berangkat untuk merajut masa depan. Tak tanggung-tanggung, keputusan besar yang dibuatnya membawa langkahnya menyeberangi ribuan kilometer lautan dan menepi di SMAN 1 Citak Mitak, Provinsi Papua.

Awal bertugas, James dan warga sekolah sudah harus berjerih lelah untuk membangun ruang kelas darurat. Kelas berdinding kayu hutan dan beratap daun sagu menjadi tempat belajar yang nyaman untuk memupuk harapan akan masa depan. Walaupun di tengah keterbatasan, ia yakin dari kelas befak (gubuk) ini akan lahir pemimpin-pemimpin hebat di masa depan.

Citak Mitak bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Sebuah distrik yang terletak di Kabupaten Mappi ini, didominasi oleh rawa-rawa dan sungai-sungai besar yang menjadi jalan raya. Tanpa sinyal dan internet, perkembangan dunia luar betul-betul tak tersentuh. Mengajar di sini berarti melampaui kurikulum.

James menceritakan dalam sebuah percakapan, "Saat pertama kali tiba, saya menyadari bahwa buku teks Geografi yang saya bawa nyaris tidak terpakai." Bagaimana ia bisa menjelaskan tentang urbanisasi kepada siswa yang desa terdekatnya harus ditempuh berjam-jam dengan ketinting? Bagaimana ia menjelaskan tentang zona iklim global ketika dunia mereka adalah hutan hujan tropis yang abadi?

Di tengah keterbatasan, kreativitas James mulai terbentuk. Sebagian besar materi ajarnya yang kaku, ia buang. Ruang kelasnya berpindah dari bilik berdinding kayu hutan ke alam terbuka. Sungai menjadi laboratoriumnya untuk menjelaskan banjir dan sedimentasi. Hutan menjadi perpustakaannya untuk mempelajari flora dan fauna. Tantangannya bukan hanya soal fasilitas. Listrik hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 12 malam, air bersih adalah kemewahan yang langka, dan sering kali ia harus mengajar siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar.

"Dari anak-anak Papua, saya belajar bahwa guru bukan hanya sebagai pengajar," katanya. "Saya adalah figur kakak, motivator, dan yang terpenting, saya adalah jembatan; jembatan antara adat istiadat mereka yang kaya dengan pengaruh dunia luar yang mendesak masuk."

Setahun di Citak Mitak, tak hanya menempa James menjadi guru yang kreatif, tetapi juga menjadi pribadi yang tangguh. Ia belajar budaya lokal, mandi air keruh, minum air hujan, makan ulat sagu dan masuk hutan. Ia juga memahami bahwa Geografi bukanlah ilmu hafalan tentang peta, tetapi ilmu tentang bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan. Papua telah membaptisnya dengan api. Ia tidak hanya mengajar Geografi; ia hidup di dalam ilmu Geografi itu sendiri.

Babak Dua: Menempa Profesionalisme (20162018)

Pengalaman hidup yang luar biasa di pedalaman Papua, membawa James pada sebuah mindset baru, bahwa untuk sebuah pengabdian, semangat saja tidak cukup. Pengabdian membutuhkan sesuatu yang lebih, yaitu profesionalisme. Pada tahun 2016, ia harus berpisah dengan orang-orang baik di Tanah Papua. Ia pulang bersama kenangan yang tak ternilai dan kerinduan yang mendalam akan rumah. Tetapi, ia tak berhenti di situ.

James melanjutkan perjalanan panjangnya ke Universitas Nusa Cendana lewat PPG Prajabatan SM-3T selama setahun. Ini adalah langkah yang masuk akal. PPG Prajabatan SM-3T menjadi wadah bagi mereka yang telah merasakan kerasnya kehidupan di garis terdepan Ibu Pertiwi. Di Papua ia belajar dari alam yang keras, di bangku PPG ia belajar dari banyak teori. Ia kembali menyelami ilmu pedagogi, psikologi pendidikan, dan desain kurikulum. Ia, yang terbiasa mengajar di bawah pohon, kini harus belajar merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sistematis sesuai tuntutan kurikulum.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sebuah kemunduran. Namun, tidak bagi James. Ia melihatnya sebagai proses menempa besi menjadi pedang. Pengalaman lapangannya di Papua adalah baja mentah; PPG Prajabatan adalah api dan palu yang membentuknya menjadi senjata kokoh dan tajam. Di Papua ia belajar 'apa' dan 'mengapa' menjadi seorang guru. Di PPG Prajabatan, ia mendalami 'bagaimana' cara mengajar dengan lebih baik, terukur, dan berdampak.

Namun, pilihan menjadi seorang pendidik profesional tidaklah mudah. Ada jurang terjal yang harus dilalui. Setelah memegang sertifikat pendidik, statusnya tidak serta-merta berubah. Pada tahun 2018, sembari menunggu peluang seleksi CPNS, James mendedikasikan dirinya sebagai guru honorer di SMAS Reformasi Plus.

Era “honorer” adalah babak ujian kesetiaan. Ini adalah periode dilematis bagi banyak guru: bekerja dengan beban yang sama (atau bahkan lebih) dengan guru PNS, namun dengan pengakuan dan kesejahteraan yang jauh sangat berbeda. SMAS Reformasi Plus, sebuah sekolah swasta yang mengadopsi sistem pendidikan luar negeri, semakin membuka wawasan berpikir James. Sekolah ini membentuk James menjadi guru yang dapat berpikir dari sudut pandang yang berbeda. KUDIC Prosadar (Knowing, Understanding, Doing, Inovation, Character, Program Siswa Ajaib dan Dahsyat Reformasi), sebuah model pembelajaran yang diadopsi sekolah-sekolah reformasi, membuat  James semakin menjadi guru yang kreatif.

Di sinilah pelajaran dari Citak Mitak kembali berguna. Ia menginisiasi Klub Geografi dengan pembuatan peta timbul dari serbuk kayu, mengubah bentuk kelasnya menjadi lebih berwarna dan penuh dengan inovasi serta proyek-proyek inovatif lainnya.

Ia membuktikan bahwa status honorer bukanlah penghalang untuk berdampak. Baginya, mengajar di SMAS Reformasi Plus adalah tentang menjaga api gairah itu tetap menyala di tengah penantian. Itu adalah ujian integritas; apakah ia mengajar karena pekerjaan, atau ia mengajar karena passion? James memilih yang kedua.

Babak Tiga: Mengakar di Tanah Malaka (20192024)

Penantian itu berakhir pada tahun 2019. Doa dan usahanya direstui oleh Yang Maha Kuasa. James resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di SMAN Bolan, Kabupaten Malaka.

Malaka, sebuah kabupaten di Pulau Timor yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, menyajikan lanskap geografi yang sama sekali berbeda dari Papua. Jika Citak Mitak adalah tentang air, rawa, dan hutan lebat, maka Malaka adalah tentang hamparan sawah yang luas, tanah yang subur dan tantangan banjir saat musim hujan.

Di sinilah James benar-benar "mengakar". Status PNS memberinya stabilitas yang ia butuhkan untuk membangun program jangka panjang. Ia tidak lagi sekadar "bertamu" seperti di Papua. Ia adalah bagian dari sistem, bagian dari komunitas dan bagian dari keluarga besar Malaka.

Di SMAN Bolan, julukan "Guru Geografi Kreatif"-nya semakin bersinar. Ia melihat alam Malaka bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai laboratorium raksasa untuk bereksperimen.

Di tahun pertamanya bertugas, James memelopori proyek-proyek yang bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka. Ia membimbing siswanya membuat pameran peta timbul. Belasan peta timbul telah dihasilkan oleh kelas geografinya Pak James. Ia mengajari anak-anak membuat media pembelajaran sederhana menggunakan bahan lokal berupa tanah dan rumput. Karya ini bahkan diapresiasi oleh Badan Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi NTT sebagai Peserta Terbaik Apresiasi Karya Inovasi Guru dalam acara Puncak Festival Kurikulum Merdeka Tahun 2024.

Ia rajin melaksanakan home visit untuk mengetahui lebih dekat tentang kehidupan siswa-siswanya. Ia tak hanya mengajar di kelas. Ia mengajak anak-anak masuk ke hutan mangrove untuk mempelajari lebih dekat tentang ekosistemnya. Tak sampai di situ, ia bergabung menjadi relawan Komunitas Belajar OKL Street Library untuk membagikan ilmu kepada anak-anak di pelosok Desa Railor, Malaka. Pada tahun 2024, ia juga membawa nama SMAN Bolan untuk tampil di ibu kota provinsi pada acara gelar wicara Jambore GTK Hebat lewat program “Berkat” yang merupakan akronim dari berkarya dengan kertas.

Saat masa pandemi, work from home menjadi salah satu batu loncatan penting bagi James mengasah berbagai keterampilan. Ia belajar tentang cara membuat video, menulis artikel sederhana, melukis, cipta puisi dan menggambar grafiti. Bahkan, keterampilan menggambar grafiti membawa namanya melambung tinggi di tingkat nasional. Ia terpilih menjadi salah satu pemenang dalam acara Pekan Inspirasi Tanah Air (PITA) yang diselenggarakan oleh Zenius, platform edukasi online. Ia juga diundang sebagai narasumber untuk berbagi dalam acara tersebut.

Selama hampir enam tahun di Malaka (2019 hingga akhir 2025), SMAN Bolan memberikannya ruang yang begitu luas untuk terus belajar. James menjadi sosok yang integral. Ia membangun sebuah "warisan" kecil. Ia melihat siswa yang ia bimbing dari kelas 10, lulus, dan beberapa di antaranya melanjutkan kuliah, bahkan ada yang sudah sukses menjadi guru, TNI, Polri dan lain sebagainya.

Di Malaka, James belajar tentang etika birokrasi, tentang membangun jaringan dengan komunitas, dan tentang arti sesungguhnya dari stabilitas dalam pengabdian. Ia matang sebagai seorang guru dan seorang pemimpin di komunitasnya. Ia telah membuktikan bahwa seorang guru PNS pun bisa tetap idealis dan kreatif, tidak terjebak dalam rutinitas administratif.



Babak Empat: Pelabuhan Baru, Tantangan Baru (2025Sekarang)

Peta perjalanan James kembali bergeser pada tengah tahun 2025. Doa membawanya ke SMAN 13 Kupang. Perjalanan pulang ke kota yang lebih besar, sebuah pelabuhan baru, kota kelahiran.

Kupang adalah dunia yang berbeda lagi. Ini adalah ibu kota provinsi. Tantangannya bukan lagi isolasi fisik seperti di Papua, atau keterbatasan fasilitas seperti di Malaka. Tantangan di SMAN 13 Kupang bersifat urban: siswa yang sangat terekspos pada gawai, tantangan moralitas perkotaan, dan ekspektasi akademik yang mungkin lebih tinggi.

Bagi James, ini adalah babak sintesis. Pengalaman 10 tahun di depan kelas menjadi bekal yang berharga. Pelajaran penting di pelosok kini ia gunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang melek digital. Profesionalisme di PPG, ia gunakan untuk menghadirkan pembelajaran berbasis teknologi yang menarik di kelas. Integritas yang telah dibangun sejak masih honorer menjadi fondasi yang kuat. Kreativitas selama di Malaka, kini dapat ia terapkan dengan dukungan yang cukup memadai.

Baginya, anak-anak di Kupang punya akses informasi yang lebih baik, tetapi mereka juga membutuhkan hal yang sama, seperti di Citak Mitak dan Bolan. Mereka butuh didengar, bimbingan dan inspirasi.


Refleksi di Hari Guru

Sepuluh tahun sudah, 2015 hingga 2025. Dari SMAN 1 Citak Mitak, ke bangku PPG, mampir di SMAS Reformasi Plus, mengakar di SMAN Bolan, dan kini berlabuh di SMAN 13 Kupang.

Peta perjalanan karier James Mansula adalah sebuah atlas pengabdian. Ia telah mengajar di tiga lanskap Geografi paling khas di Indonesia Timur: Hutan Rawa Papua, Dataran Rendah nan Subur Malaka, dan Pinggiran Kota Kupang.

Pada peringatan Hari Guru ini, kisah James adalah pengingat yang kuat. Menjadi guru bukanlah tentang mencari zona nyaman. Ini adalah tentang bergerak, beradaptasi, dan meninggalkan jejak di setiap tempat yang disinggahi.

James Mansula, Sang Guru Geografi, telah membuktikan bahwa pelajaran terbaik bukanlah yang tertulis di buku teks. Pelajaran terbaik adalah kehidupan guru itu sendiri. Ia tidak hanya mengajar Geografi; ia adalah Geografi itu sendiri—sebuah bentang alam yang dibentuk oleh erosi tantangan, disuburkan oleh hujan pengabdian, dan kini, di Kupang, siap menumbuhkan benih-benih baru.

Perjalanannya masih panjang. Namun, satu dekade ini telah meletakkan fondasi yang kokoh. Seperti yang sering ia katakan kepada murid-muridnya sambil menunjuk peta, "Bukan tempatnya yang membuat kita hebat, tetapi apa yang kita lakukan di tempat itu. Di mana pun kamu ditempatkan, jadilah pembuat peta, bukan sekadar pembaca peta." 

Selamat Hari Guru, Pak James Mansula. Teruslah menjadi kompas bagi generasi muda.

Oleh: James Gerson Mansula