Rabu, 29 Oktober 2025

Kegiatan Bimbingan Jurnalistik Penulisan Feature di SMA Negeri 13 Kupang

 


SMA Negeri 13 Kupang kembali mengadakan kegiatan bimbingan jurnalistik yang kali ini berfokus pada penulisan feature. Acara ini merupakan kolaborasi ketiga antara sekolah dengan Balai Bahasa Provinsi NTT. Kegiatan yang penuh antusiasme ini dihadiri oleh siswa-siswi dan para guru, dengan narasumber utama Bapak Aris Edo Riyandhika, staf dari Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur



PLT Kepala SMA Negeri 13 Kupang, Bapak Ivan, mengungkapkan bahwa penulisan feature adalah perpaduan antara berita dengan seni sastra. Beliau juga menekankan pentingnya siswa mengikuti materi ini dengan baik hingga selesai. Dalam sesi tersebut, Pak Edo  memaparkan bahwa latihan menulis dapat membantu membangun pola pikir yang terstruktur. Beliau mengajak seluruh peserta untuk mulai menulis dari hal-hal sederhana.

Materi disampaikan dalam dua sesi, yaitu penjelasan tentang berbagai bentuk feature dan sesi praktik menulis. Beberapa karya siswa dibacakan dan mendapatkan masukan langsung dari Pak Edo, yang membuat suasana semakin interaktif. Semangat para peserta terlihat jelas hingga akhir kegiatan. Melalui bimbingan ini, diharapkan minat dan kemampuan menulis siswa SMA Negeri 13 Kupang semakin tumbuh, serta menjadi langkah nyata dalam membangun budaya literasi di sekolah. Semangat dari para peserta terlihat jelas, menjadikan kegiatan ini tidak hanya bermanfaat tetapi juga menyenangkan. Semoga semangat menulis terus tumbuh di SMA Negeri 13 Kupang! (Maia Halle)


Selasa, 28 Oktober 2025

SMA Negeri 13 Kupang Hadir dalam Launching Pergub NTT tentang Iuran Pengembangan Pendidikan (IPP)

 Mendukung pendanaan pendidikan yang transparan dan berkeadilan


Kupang, 27 Oktober 2025 — Aula SMA Negeri 2 Kupang menjadi saksi peluncuran Peraturan Gubernur (Pergub) Nusa Tenggara Timur tentang Iuran Pengembangan Pendidikan (IPP), dihadiri pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan. Pergub ini bertujuan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dalam pengelolaan dana pendidikan, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan. Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mewujudkan pendidikan berkualitas bagi generasi penerus.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi  NTT, Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB Se-kota Kupang, Anggota DPRD Komisi V, kepala sekolah SMA/SMK/SLB, hingga Ketua OSIS, dari berbagai satuan pendidikan. Pertemuan ini menegaskan sinergi dalam mendukung kebijakan pendanaan pendidikan. Komitmen bersama ini bertujuan meningkatkan pemerataan dan kualitas pendidikan, simbol harapan bagi generasi muda. Kehadiran para pemangku kepentingan membuktikan bahwa pendidikan adalah prioritas demi NTT yang lebih cerah.



SMA Negeri 13 Kupang turut hadir dalam kegiatan penting ini melalui perwakilan dari sekolah, yaitu Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Humas), ibu Asrini F.M.W. Djami, S.Si. Kehadiran perwakilan SMAN 13 Kupang menunjukkan komitmen sekolah dalam mengikuti setiap perkembangan kebijakan pendidikan di tingkat provinsi, khususnya yang berdampak langsung pada tata kelola dan layanan pendidikan di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT menyoroti pentingnya Iuran Pengembangan Pendidikan (IPP) sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan. IPP, yang diatur secara resmi, bertujuan membantu sekolah menyediakan fasilitas yang lebih baik, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan menciptakan lingkungan pendidikan kondusif. Dengan dukungan IPP, sekolah di NTT diharapkan mampu mencetak generasi unggul berdaya saing. Kepala Dinas juga menegaskan pentingnya transparansi pengelolaan IPP agar manfaatnya langsung dirasakan siswa dan guru.

Melalui kegiatan launching ini, seluruh sekolah diharapkan memiliki pemahaman yang selaras dan komitmen yang kuat dalam mengimplementasikan Pergub IPP.
SMA Negeri 13 Kupang menyambut baik kebijakan ini dan bertekad untuk melaksanakannya dengan prinsip keterbukaan, tanggung jawab, serta kerja sama yang erat antara sekolah, orang tua/Wali, dan masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi ini, sekolah optimis mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan mendukung pengembangan potensi siswa secara maksimal. Kebijakan ini menjadi langkah maju yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pendidikan di SMA Negeri 13 Kupang. (Asrini Djami)

Jumat, 24 Oktober 2025

SMAN 13 Kupang Gelar Pendampingan Program Sekolah Siaga Kependudukan

Guru dan tenaga kependidikan SMAN 13 Kupang mengikuti kegiatan Pendampingan Program Sekolah Siaga Kependudukan bersama BKKBN Provinsi NTT.


KUPANG (24/10/2025) –SMAN 13 Kupang telah menunjukkan komitmen nyata dalam menghadapi isu-isu kependudukan dengan menyelenggarakan kegiatan Pendampingan Program Sekolah Siaga Kependudukan pada Jumat, 24 Oktober 2025. Kegiatan ini melibatkan seluruh guru dan tenaga kependidikan, dengan menghadirkan narasumber dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam sambutannya, Plt Kepala SMAN 13 Kupang, Fransiskus Xaverius Ivan Rahas,S.Pd,.M.Hum menekankan pentingnya mengatasi permasalahan kependudukan yang menjadi tantangan besar di masyarakat. Ia juga menyoroti perlunya integrasi literasi kependudukan dalam pembelajaran serta pengaktifan PIK-R sebagai langkah preventif.

Ibu Dian, perwakilan dari BKKBN Provinsi NTT, mengapresiasi inisiatif SMAN 13 Kupang dalam menjalin kemitraan untuk meningkatkan pemahaman tentang isu-isu seperti bonus demografi, stunting, dan pembangunan keluarga. Ia berharap kolaborasi ini dapat memperkuat literasi kependudukan di kalangan siswa dan tenaga pendidik.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi pemberian materi oleh tim BKKBN, yang memberikan wawasan mendalam terkait kebijakan dan implementasi Program Sekolah Siaga Kependudukan. SMAN 13 Kupang berharap program ini dapat menciptakan generasi muda yang lebih sadar akan pentingnya isu kependudukan.Dengan semangat kolaborasi, sekolah ini berupaya menciptakan generasi muda yang sadar, peduli, dan berperan aktif dalam menghadapi berbagai persoalan kependudukan(Maia Halle)



Selasa, 21 Oktober 2025

Sukseskan Gerakan Sekolah Sehat, SMA 13 Kupang Gandeng Puskesmas Naioni Skrining Kesehatan Siswa dan Anti - Rokok

Gerakan Sekolah Sehat: SMA Negeri 13 Kupang bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Naioni melaksanakan skrining kesehatan anak sekolah dan skrining perilaku merokok.



Kupang, 20 Oktober 2025 — SMA Negeri 13 Kupang melangkah maju dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dengan melaksanakan skrining  kesehatan peserta didik dan perilaku merokok. Bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Naioni, kegiatan ini berlangsung di aula sekolah dengan antusiasme tinggi dari para siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Berbagai pemeriksaan dilakukan, mulai dari tes kesehatan mata, pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah, kadar hemoglobin, hingga tes asam urat. Tak ketinggalan, skrining perilaku merokok juga menjadi perhatian utama mengingat banyaknya remaja yang terpapar bahaya rokok. 

Kepala SMA Negeri 13 Kupang, Fransiskus Xaverius Ivan Rahas, S.Pd., M.Hum. menegaskan pentingnya pemeriksaan rutin peserta didik. “Adanya skrining kesehatan ini akan membuat peserta didik lebih aware dan care dengan tubuhnya. Skrining merokok pun sangat dibutuhkan karena saat ini banyak anak muda yang menjadi perokok aktif maupun pasif. Mereka belum menyadari kerugian yang akan terjadi jika terpapar oleh asap rokok sehingga perlu adanya pemberian pemahaman yang tepat dari orang yang berkompeten di bidangnya.” Ujarnya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sekolah Sehat yang berfokus pada lima pilar: sehat bergizi, fisik, imunisasi, jiwa, dan lingkungan.  Dengan kegiatan ini, SMA Negeri 13 Kupang berharap peserta didik menjadi manusia yang sehat jiwa dan raga sehingga mampu terlibat aktif pada seluruh kegiatan yang diadakan sekolah seperti intrakurikuler, ekstrakurikuler dan kokuriler demi satu tujuan agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi sehat, cerdas, dan berkarakter yang siap meraih kesuksesan di masa depan.                 (Efy Ebu Oy)










Sabtu, 18 Oktober 2025

SMA Negeri 13 Kupang Hadirkan Terobosan Baru: Parenting dan Pembagian Rapor Tengah Semester

Kolaborasi nyata untuk pendidikan yang lebih dekat, terbuka, dan bermakna.

Selasa, 14 Oktober 2025

Perkuat Literasi Bahasa Indonesia, SMA Negeri 13 Kupang Teken MoU dengan Balai Bahasa Provinsi NTT

 


SMA Negeri 13 Kupang telah meresmikan langkah penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penandatanganan yang dihadiri langsung oleh Kepala Balai Bahasa NTT, Bapak R. Hery Budhiono, S.Pd.,M.A., dan Plt. Kepala SMAN 13 Kupang, Bapak Fransiskus Xaverius Ivan Rahas, S.Pd.,M.Hum serta disaksikan oleh seluruh guru dan staf, menjadi tonggak formal dimulainya kerja sama strategis.

Dalam sambutannya, Bapak Heri menegaskan komitmen lembaganya untuk mendukung penuh SMAN 13 Kupang. Beliau mengatakan, "Pihaknya akan melakukan pendampingan dan asistensi sehingga kegiatan-kegiatan ke depan, khususnya dalam hal peningkatan kompetensi berbahasa, dapat berjalan dengan baik." Sementara itu, Bapak Ivan  mempresentasikan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sekolah, mulai dari sosialisasi UKBI, pelaksanaan ujian, hingga hasil UKBI yang telah diperoleh warga sekolah. Presentasi ini menunjukkan keseriusan SMAN 13 Kupang sebagai institusi baru untuk membangun lingkungan pendidikan yang cakap dan berbudaya dalam berbahasa.

Kerja sama yang telah berjalan intensif sejak Agustus 2025 ini memang difokuskan pada kegiatan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). UKBI dianggap sebagai tolok ukur penting untuk mengukur kemampuan berbahasa warga sekolah dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Rangkaian kegiatan pun telah dilaksanakan, diawali dengan Sosialisasi & Simulasi UKBI Adaptif, dilanjutkan dengan tes UKBI gratis bagi 13 guru , yang hasilnya membanggakan dengan perolehan predikat level Madya, Unggul, hingga Sangat Unggul.




Selain sertifikasi UKBI, guru juga aktif berpartisipasi dalam program lain, seperti Pemasyarakatan Program BIPA pada pertengahan Agustus dan Sosialisasi Program Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik. Dukungan Balai Bahasa NTT terhadap SMAN 13 Kupang juga diwujudkan melalui kunjungan pembinaan  untuk meninjau penggunaan bahasa Indonesia yang benar di lingkungan sekolah.

Inisiatif utama sekolah adalah pengikutsertaan siswa dalam tes UKBI. Setelah sosialisasi dan simulasi , sebanyak 38 siswa melaksanakan tes UKBI yang terbagi dalam dua sesi, yakni pada 25 September dan 1 Oktober 2025. Melalui sinergi positif yang dilandasi MoU ini, SMAN 13 Kupang optimis dapat mencetak generasi yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga berbudaya dan mahir dalam berbahasa Indonesia. 

By Maia Halle

Tentang Yuliana dan Luka yang Tak Terucap

 

Cerpen

Tentang Yuliana dan Luka yang Tak Terucap

​Yuliana, gadis 16 tahun yang cantik, menjalani kehidupan hampir sempurna. Ia memiliki kekasih yang mencintainya, keluarga yang mengasihinya, dan  prestasi gemilang di SMA Negeri 13 Kupang. Hidupnya penuh kebahagiaan dan kesuksesan menjadi idaman banyak remaja. Sebagai generasi milenial di pusat kota, Yuliana menikmati kemudahan hidup modern. Ia sering membagikan momen liburan bersama orang-orang tercinta di media sosial, menarik perhatian banyak pengikut. Hidupnya seolah sempurna: penuh cinta, dukungan, pendidikan berkualitas, dan kenangan indah yang menghiasi harinya.​

Namun, di balik lapisan kilau itu, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Yuliana duduk termenung di tepi jendela, menyaksikan hujan yang turun perlahan. Hatinya terasa sekelabu langit mendung di luar. Hidupnya yang tampak sempurna di mata orang-orang hanya menyembunyikan rapuhnya ia di dalam.  Ia mendambakan sesuatu yang nyata, yang membuatnya merasa hidup—bukan rutinitas kosong atau senyuman palsu. Ia ingin lepas dari ekspektasi dan menemukan kebahagiaan sejati. Tapi di mana? Bagaimana caranya?  Yuliana merasa kosong, hampa. Setiap pagi ia terbangun dengan perasaan bahwa ia sedang memainkan peran yang membosankan. Semua terasa datar, tak ada lagi lonjakan emosi, baik itu kebahagiaan yang membuncah atau kesedihan yang menusuk. Ia hanya... ada.

​Kekosongan itu perlahan menjelma menjadi kabut tebal yang mencekiknya. Ia mulai mempertanyakan segalanya: Untuk apa semua ini? Apa gunanya bekerja keras jika ujungnya hanya akan kembali ke titik hampa ini?

Pada sebuah pagi yang dingin di bulan November, Yuliana membuat sebuah keputusan besar yang akan mengubah hidupnya. Berada dalam jerat penjara eksistensial yang tak kasat mata tetapi ia ciptakan sendiri, Yuliana merasa hanya ada satu cara untuk membebaskan dirinya. Dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan segenggam pil tidur dari kotak kecil di lemari obat. Pil-pil mungil itu terlihat begitu sederhana, tetapi bagi Yuliana, mereka menyimpan janji akan kedamaian abadi yang telah lama ia idamkan.

Tanpa ragu, ia menelan pil-pil tersebut dengan segelas air yang menyegarkan. Setelah itu, tubuhnya terbaring di atas ranjang, sedangkan matanya terpejam rapat, sambil berharap tak perlu membuka kelopak matanya lagi. Dalam benaknya, tergambar keinginan untuk menghanyutkan diri di tengah keheningan paripurna, lepas dari beban tekanan untuk merasa bahagia, berhasil, atau sekadar menjalani kehidupan yang terasa begitu menghimpit. Dalam kesunyian mutlak itulah, Yuliana berharap dapat menemukan kedamaian yang selama ini terus menguap dari jiwanya.

Terjaga di Ruang yang Tak Bernama

​Dindingnya berwarna hijau mint pucat, dan bau antiseptik menusuk hidung. Samar-samar, suara dengungan alat medis terdengar.

​Yuliana mengerjap, merasakan lidahnya kelu dan tenggorokannya kering. Ia mencoba bergerak, tapi lengannya terasa berat dan tertancap jarum infus. Bingung, ia menoleh ke samping. Ia tidak berada di rumahnya.

​Seorang perawat dengan seragam putih menghampirinya dengan senyum tipis.

Aduh, Yuliana, selamat datang balĂ© e… syukur ko su sadar.” kata perawat itu lembut.

​Yuliana menatapnya dengan pandangan kosong. "beta dimana?"

“Nona ada di rumah sakit jiwa. Dua hari lalu dong temukan Nona pingsan di kamar.."

​Rumah sakit jiwa. Yuliana menelan ludah. Ia gagal. Rasa frustrasi bercampur kekalahan membanjiri dirinya.

​Tak lama kemudian, seorang dokter paruh baya dengan kacamata bingkai tebal memasuki ruangan. Ia memperkenalkan diri sebagai Dr. Ello, psikiaternya.

​Setelah menjelaskan proses pemulihannya, Dr. Ello duduk di kursi di sebelah ranjang dan menatap Yuliana dengan tatapan penuh empati.

​"Yuliana," ujarnya pelan, " “Beta musti bilang sesuatu yang serius, e. Dari hasil periksa ko pung badan, habis ko minum pil banyak sekali itu... ada rusak parah di dalam, Nona."

​Jantung Yuliana berdebar kencang. Ia menunggu, tak mampu berkata-kata.

​Dokter itu menghela napas. “Secara medis, Nona, ko pung waktu hidup tinggal sedikit lai.”

Dalam Detik yang Semakin Menyempit

​Kabar itu seharusnya membuatnya bahagia. Kematian yang ia cari kini datang padanya, tanpa harus berusaha lagi. Tapi anehnya, kata-kata dokter itu justru memicu sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan: keterkejutan yang nyata, rasa takut yang menusuk, dan... penyesalan.

​Yuliana menghabiskan malam itu merenung. Ia telah menyia-nyiakan 16 tahun hidupnya yang sempurna untuk mengejar citra yang ia pikir ia inginkan. Dan kini, di detik-detik terakhir yang ia punya, ia baru menyadari betapa berharganya setiap tarikan napas, setiap sapaan, setiap sinar matahari.

“Dok, beta mau keluar sebentar, bisa ka?”tanyanya keesokan harinya.

​Dr. Ello memberinya izin, dengan pengawasan ketat. Yuliana tahu ia tak punya waktu untuk terapi, untuk penyesalan yang berlarut-larut. Ia punya waktu untuk bertindak.

​Ia menelepon kekasihnya, bukan untuk putus, tapi untuk mengatakan betapa ia mencintainya, tanpa syarat, untuk pertama dan terakhir kalinya.

​Ia menelepon ibunya, bukan untuk menangis, tapi untuk mengucapkan terima kasih atas semua bekal hidup yang telah diberikan.

​Ia bahkan mendatangi sekolahnya, bukan untuk menghapus namanya dari DAPODIK, melainkan untuk memberikan apresiasi dan senyum tulus kepada guru-guru serta teman-temannya yang selalu mendampinginya selama ini di sekolah. Ia juga menyempatkan diri meminta maaf kepada seorang teman yang sering menjadi korban perlakuan tidak adil darinya

​Dalam sisa waktu yang sempit itu, Yuliana memilih untuk hidup, bukan sekadar ada. Ia duduk di taman rumah sakit, membiarkan angin November yang dingin menyentuh kulitnya, merasakan tekstur daun yang gugur. Ia mendengarkan tawa anak-anak dari kejauhan, dan untuk pertama kalinya, ia menemukan makna dalam suara itu.

​Ia menyadari bahwa kesempurnaan hidupnya selama ini bukanlah pada hal-hal besar—prestasi ,uang, atau kekasih—melainkan pada kemampuan untuk merasakan hal-hal kecil. Kebosanan dan kehampaan yang ia rasakan dulu bukanlah karena hidupnya kurang, tapi karena ia berhenti memperhatikan hidupnya.

Ketika Akhir Tak Seindah Harapan

​Hari keempat. Yuliana terbaring lemah. Keluarganya berkumpul, tangisan tertahan di udara. Ia memegang tangan ibunya dan kekasihnya.

​Ia tersenyum, senyum yang berbeda dari senyum selfie-nya dulu. Senyum itu tulus, penuh kedamaian. Ia tidak lagi menyesal gagal bunuh diri; ia menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang begitu banyak. Tapi ia bersyukur, bahkan kegagalan itu telah memberinya beberapa hari paling bermakna dalam hidupnya.

Yuliana menutup matanyadan segalanya pun hening

​Kehidupan Yuliana hanya berjalan 16  tahun dan beberapa hari. Tapi dalam hari-hari terakhir itu, ia berhasil menemukan apa yang selama ini hilang: alasan untuk mencintai kehidupannya yang tidak sempurna. Ia akhirnya berdamai.

​Kematian tidak lagi terasa sebagai keheningan yang dicari, melainkan sebagai akhir dari sebuah perjalanan yang, meskipun singkat, akhirnya ia jalani dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Yuliana yang pergi bukanlah Yuliana yang hampa, melainkan Yuliana yang akhirnya merasa hidup.

By Maia Halle