Rabu, 20 Mei 2026

Cerita Pendidikan dibalik tembok SMA Negeri 13 Kupang "Ibu e... Otak Begini ni..."

 

Bram, murid kelas X berusia enam belas tahun. Ia tinggal bersama walinya di sebuah sudut Indonesia bagian tengah. Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang ceria, rajin, pekerja keras, dan suka membantu siapa saja tanpa diminta. Namun, ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya. Bram tidak pernah benar-benar bisa tenang saat pelajaran berlangsung. Ia membolak-balik halaman buku, menyapa teman di sampingnya, atau menoleh ke berbagai arah ketika guru menjelaskan.

Bukan karena ia nakal, dia sedang menghadapi kegelisahan yang berbeda. Ia mengalami kesulitan membaca. Tulisan tangannya pun sering kali sulit dipahami. Ia juga membutuhkan bantuan lebih dalam kemampuan numerasi dan penalaran.

Saya ingat diskusi kami berdua di suatu sore saat projek kimia akhir semester lalu. Di ruang guru yang mulai sepi, saya bertanya padanya “Bram, lima atau sepuluh tahun lagi, kamu ingin menjadi apa?”

Wajah cerianya mendadak berubah. Ia tertawa kecil, lalu berkata dengan logat khas daerah timur, “Ibu e… otak begini ni….”

Saya diam seribu bahasa.

Dari kalimat sederhana itu, saya seperti mendengar luka yang telah lama ia simpan. Mungkin selama bertahun-tahun ia terbiasa mendengar dirinya disebut lambat. Mungkin ia terlalu sering merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Di balik senyumnya yang lebar, ternyata ada seorang anak yang diam-diam kehilangan keyakinan terhadap dirinya sendiri.

***

Kata-kata Bram terus terngiang di telinga saya hingga beberapa waktu lalu, ketika mempersiapkan materi tentang perhitungan jumlah mol zat, saya teringat pada Bram. Hati kecil saya berkata “apa yang sebaiknya saya buat untuk membantunya?”.

Saya sadar bahwa kata-kata penyemangat saja tidak cukup untuk menghancurkan tembok keputusasaan Bram. Saya butuh peta untuk mengetahui dimana persisnya ia tersesat. Saya menyusun asesmen dengan merancang soal sederhana, satu berupa teks tanpa angka untuk melihat pemahaman literasinya dan satu lagi sekedar perkalian dasar tanpa teks untuk menguji numerasinya.

Asesmen ini bukan sekedar untuk mengetahui pengetahauannya melainkan untuk melacak titik mula kebingungan dalam literasi dan numerasinya. Hasilnya Bram ada di kelompok yang perlu intervensi khusus.

Saat diskusi, saya membagikan lembar pengayaan untuk kelompok yang sudah siap lalu memfokuskan sisa waktu saya di kelompok intervensi di mana Bram berada. Saat itu saya menemukan lembar kerja mereka yang masih kosong.

“Bagian mana yang belum kalian pahami?” Bram menunduk. “Kami tidak tahu harus mulai dari mana, Bu.” Kalimat itu membuat saya sadar bahwa masalah terbesar mereka bukan semata-mata ketidakmampuan menghitung, melainkan ketidakmampuan menemukan titik awal berpikir. Saya kemudian mendampingi mereka dengan lebih perlahan dan terarah.

Saya mulai dengan meminta mereka menulis kata “Diketahui” di bawah soal, kemudian membaca soal dengan seksama dan lingkari semua angka yang ditemukan. Tangan Bram ragu-ragu memegang pensil, matanya menyusuri deretan teks yang biasanya membuatnya frustasi sampai dia menemukan angak 0,5. Saat dia melingkarinya, ada hembusan napas legah yang pelan.

Selanjutnya saya ajak mereka memperhatikan satuan di belakang angka tersebut. “Kalau tertulis gram, berarti itu massa. Kalau liter, berarti volume,” jelas saya. Kemudian saya lanjutkan lagi, “Sekarang, coba buka kembali catatan kalian dan cocokkan simbol-simbol yang pernah dipelajari.”

Bram mulai mencocokkan informasi itu satu per satu dan ini pertama kalinya saya melihat ia benar-benar fokus. “Mol simbolnya n, massa simbolnya g, dan volume simbolnya V.” Bram menjawab perlahan. Saya hampir terbang ketika mendengar jawaban ini. Hati saya berbisik “Bram mulai paham.”

Saya coba beri mereka tugas sederhana. Saya sampaikan kepada mereka, “Belum perlu menjawab soal. Tulis dulu apa yang diketahui.” Kelompok Bram mulai bekerja. Lembar yang sebelumnya kosong perlahan mulai terisi tulisan.

Minggu berikutnya, saya melihat perubahan kecil yang berarti. Bram mulai menuliskan bagian “diketahui” tanpa diminta. Ia bahkan berbisik kepada temannya, “Cari dulu angkanya… terus lihat kata di belakangnya.” Ia tidak lagi berkata, “Saya tidak tahu harus mulai dari mana.”

Ia juga sudah bisa berkata kepada saya, “Jadi… kalau kita sudah tahu volumenya liter, kita tinggal bagi dengan angka 22,4 ini ya Bu supaya jadi mol?”

***

Dua minggu kemudian, Bram meminta tambahan latihan soal untuk dikerjakan di rumah. “Bu, yang nomor tiga ini saya coba tiga kali di rumah,” katanya sambil menunjukkan pekerjaannya. Dua soal dijawab dengan benar. Satu soal masih salah dalam perhitungan. Namun kali ini Bram tidak malu memperlihatkan kesalahannya. Ia sadar, keliru mengalikan massa atom bukan karena tidak paham rumusnya tapi hanya salah hitung. Ia sudah tahu alur berpikirnya.

Saat itulah saya melihat pembelajaran mendalam mulai tumbuh dalam dirinya. Bram bukan sekadar mengikuti langkah yang saya berikan. Ia mulai memahami pola berpikir dalam menyelesaikan soal. Ia berani mencoba, memperbaiki kesalahan, dan mencari cara agar dapat memahami konsep secara mandiri.

Perubahan terbesar terjadi pada pertemuan berikutnya. Ketika kelompoknya mendapat soal baru, Bram berkata dengan penuh semangat kepada teman-temannya dengan logat khasnya,

“Co liat satuan, ini liter to..berarti kita harus bawa jadi mol dolo baru hitung lai.”

Untuk pertama kalinya, saya melihat sorot mata yang berbeda pada diri Bram. Bukan sorot mata anak yang sedang berusaha menutupi ketidakpercayaandiri, melainkan sorot mata seorang anak yang mulai menyadari bahwa dirinya mampu belajar.

Saya mengapresiasinya di depan kelas. Bram tersenyum lebar. Kali ini senyumnya terasa lebih ringan dan tulus.

Beberapa hari lalu, teman-temannya berkata kepada saya, “Bu, Bram bilang dia sudah paham konsep mol.” Hati saya tersentuh mendengarnya.

 

Bram mungkin belum tahu pasti akan menjadi apa 5 atau 10 tahun lagi, namun hari itu saat ia menjelaskan konsep mol kepada temannya, satu hal yang pasti. Masa depan yang sebelumnya ia anggap tertutup karena “otak begini” kini telah terbuka kembali. Di ruang itu, ia tidak dipandang sebagai anak lambat. Ia adalah murid yang sedang bertumbuh, belajar memecahkan masalah, dan mulai percaya pada dirinya sendiri.

***

Jumat, 08 Mei 2026

 

Museum Negeri NTT
Ruang Belajar Kontekstual Murid SMAN 13 Kupang


Oleh: Damasius Sasi, S.Pd

Guru Mata Pelajaran Sejarah SMAN 13 Kupang

 

Sebanyak 39 orang murid Kelas X dari SMAN 13 Kupang melakukan kunjungan ke Museum Negeri NTT yang terletak di Jalan Piet A. Tallo, Walikota Baru Kupang, pada hari Rabu, 4 Maret 2026 untuk murid-murud Kelas XA dan pada hari Jumat, 6 Maret 2026 untuk murid Kelas XB. Kunjungan ini bukan kunjungan biasa melainkan bagian materi pembelajaran pada semester 2 kelas X untuk mata pelajaran Sejarah. Adapun di awal semester 2 kelas X ini, materi yang dibahas adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara. Kunjungan ini juga merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik dan penelitian lapangan dengan mitra pembelajaran terkait.

Rombongan murid melakukan kunjungan sejak pukul 14.00 WITA sampai pukul 16.00 WITA. Para murid SMAN 13 Kupang tiba di Museum Negeri NTT dan langsung disambut oleh petugas serta mengikuti pengarahan terkait tata tertib yang berlaku di museum serta pengarahan dari guru mata pelajaran Damasius Sasi, S.Pd terkait apa yang harus dilakukan oleh murid-murid selama berada di museum. Turut hadir dalam kegiatan adalah tim media SMAN 13 Kupang, Agustinus L. Sitinjak, S.Kom, Teo Erikson, S.Kom dan James Mansula, S.Pd., Gr yang adalah guru Mata Pelajaran Geografi pada SMAN 13 Kupang.


Pembelajaran lapangan ini tidak sekadar menjadi kunjungan tanpa makna ke museum, tetapi merupakan bagian dari strategi pembelajaran kontekstual agar siswa belajar langsung dari sumber sejarah, budaya, dan peradaban umat manusia khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Guru mata pelajaran Damasius Sasi, dalam arahannya mengatakan bahwa pembelajaran sejarah tidak saja dirancang dengan menekankan konsep di ruang kelas, tetapi juga membangun keterampilan siswa dalam melakukan observasi, tanya jawab dengan petugas museum, berkolaborasi dalam kelompoknya untuk menyusunan laporan, hingga melakukan presentasi.

Kepala SMAN 13 Kupang Fransiskus Ivan Rahas, S.Pd., M.Hum menyambut baik hal tersebut dan menyampaikan bahwa “Kegiatan ini bertujuan mencapai kompetensi siswa dalam melakukan pengamatan, tanya jawab, dan penyusunan laporan. Museum menjadi gambaran nyata dari bukti-bukti sejarah, budaya, sosial, ekonomi, dan kebaharian yang dapat dipelajari secara langsung oleh siswa,” ujarnya.

Sebelum kegiatan berlangsung, siswa sudah dibekali materi pada pertemuan sebelumnya dan dibagi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pokok bahasan dan sub pokok materi pembelajaran pada semester 2 kelas X. Adapun pokok bahasan yang dipelajari pada semester 2 ini adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara dengan sub pokok bahasan antara lain kehidupan masyarakat pada zaman batu tua, batu madya, batu baru dan megalitikum atau batu besar. Langkah ini dilakukan agar siswa dapat fokus mempelajari objek kajian masing-masing secara mendalam.


Metode pembelajaran lapangan seperti ini sangat penting dalam pembelajaran sejarah dan erat kaitannya dengan budaya karena sebagian bukti terbesar sejarah dan budaya berada di luar ruang kelas. Siswa harus belajar langsung dari objek dan sumbernya. Museum sudah disiapkan pemerintah sebagai ruang belajar kontekstual yang siap memberikan begitu banyak informasi tentang peradaban umat manusia,

Dalam kegiatan ini, siswa tidak sekedar mengamati koleksi museum, tetapi juga melakukan tanya jawab dengan pengelola museum guna menggali informasi secara lebih detail terkait pokok bahasan, dan sub pokok bahasan pada kelompok mereka. Hal menarik lainnya adalah kuliah lapangan ini tidak berhenti pada kunjungan selama 2 jam, melainkan setelah kegiatan di museum, siswa kembali dan berkolaborasi dengan anggota kelompoknya serta difasilitasi guru mata pelajaran untuk menuyusun laporan kunjungannya guna memperdalam tema masing-masing. Hasilnya akan disusun dalam bentuk laporan untuk dipresentasekan dengan media yang menarik.

Salah satu siswi Kelas XA Yuliana Hanita Uly mengaku mendapatkan suatu pengalaman baru dalam kegiatan ini. Kelompoknya mendapat pokok bahasan kehidupan masyarakat praaksara pada masa neolitikum atau zaman batu baru. “Saya dan tema-teman hari ini belajar di Museum NTT dan mengamati peninggalan baik dalam bentuk sejarah dan budaya. Kami dibagi dalam empat kelompok sesuai dengan pokok bahasan masing-masing, dan kelompok saya mendapatkan mendapat pokok bahasan kehidupan masyarakat praaksara pada masa neolitikum atau zaman batu baru,” ujarnya. Siswa lainnya Rizal N. Tamonob, mengatakan bahwa belajar langsung di museum memberikan pemahaman yang lebih mendalam kalau dibanding dengan hanya belajar di ruang kelas. Ia mengakui bahwa dirinya semakin memahami kehidupan masyarakat praaksara khusunya pada zaman batu tua serta manusia pendukungnya.