Bram, murid kelas X berusia enam belas tahun. Ia tinggal bersama
walinya di sebuah sudut Indonesia bagian tengah. Di sekolah, ia dikenal sebagai
anak yang ceria, rajin, pekerja keras, dan suka membantu siapa saja
tanpa diminta. Namun, ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya. Bram
tidak pernah benar-benar bisa tenang saat pelajaran berlangsung. Ia
membolak-balik halaman buku, menyapa teman di sampingnya, atau menoleh ke
berbagai arah ketika guru menjelaskan.
Bukan karena ia nakal, dia sedang menghadapi kegelisahan
yang berbeda. Ia mengalami kesulitan membaca. Tulisan tangannya pun sering kali
sulit dipahami. Ia juga membutuhkan bantuan lebih dalam kemampuan numerasi dan
penalaran.
Saya ingat diskusi kami berdua di suatu sore saat projek
kimia akhir semester lalu. Di ruang guru yang mulai sepi, saya bertanya padanya
“Bram, lima atau sepuluh tahun lagi, kamu ingin menjadi apa?”
Wajah
cerianya mendadak berubah. Ia tertawa kecil, lalu berkata dengan logat khas
daerah timur, “Ibu e… otak begini ni….”
Saya diam seribu bahasa.
Dari
kalimat sederhana itu, saya seperti mendengar luka yang telah lama ia simpan.
Mungkin selama bertahun-tahun ia terbiasa mendengar dirinya disebut lambat.
Mungkin ia terlalu sering merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Di
balik senyumnya yang lebar, ternyata ada seorang anak yang diam-diam kehilangan
keyakinan terhadap dirinya sendiri.
***
Kata-kata Bram terus terngiang di telinga saya hingga beberapa waktu
lalu, ketika mempersiapkan materi tentang perhitungan jumlah mol zat, saya
teringat pada Bram. Hati kecil saya berkata “apa yang sebaiknya saya buat untuk
membantunya?”.
Saya sadar bahwa kata-kata penyemangat saja tidak cukup
untuk menghancurkan tembok keputusasaan Bram. Saya butuh peta untuk mengetahui
dimana persisnya ia tersesat. Saya menyusun asesmen dengan merancang soal
sederhana, satu berupa teks tanpa angka untuk melihat pemahaman literasinya dan
satu lagi sekedar perkalian dasar tanpa teks untuk menguji numerasinya.
Asesmen ini bukan sekedar untuk mengetahui
pengetahauannya melainkan untuk melacak titik mula kebingungan dalam literasi
dan numerasinya. Hasilnya Bram ada di kelompok yang perlu intervensi khusus.
Saat diskusi, saya membagikan lembar pengayaan untuk
kelompok yang sudah siap lalu memfokuskan sisa waktu saya di kelompok
intervensi di mana Bram berada. Saat itu saya menemukan lembar kerja mereka
yang masih kosong.
“Bagian mana yang belum kalian pahami?” Bram menunduk.
“Kami tidak tahu harus mulai dari mana, Bu.” Kalimat itu membuat saya sadar bahwa
masalah terbesar mereka bukan semata-mata ketidakmampuan menghitung, melainkan
ketidakmampuan menemukan titik awal berpikir. Saya kemudian mendampingi mereka
dengan lebih perlahan dan terarah.
Saya mulai dengan meminta mereka menulis kata “Diketahui”
di bawah soal, kemudian membaca soal dengan seksama dan lingkari semua angka
yang ditemukan. Tangan Bram ragu-ragu memegang pensil, matanya menyusuri
deretan teks yang biasanya membuatnya frustasi sampai dia menemukan angak 0,5.
Saat dia melingkarinya, ada hembusan napas legah yang pelan.
Selanjutnya saya ajak mereka memperhatikan satuan di belakang angka
tersebut. “Kalau tertulis gram, berarti itu massa. Kalau liter, berarti
volume,” jelas saya. Kemudian saya lanjutkan lagi, “Sekarang, coba buka kembali
catatan kalian dan cocokkan simbol-simbol yang pernah dipelajari.”
Bram mulai mencocokkan informasi itu satu per satu dan
ini pertama kalinya saya melihat ia benar-benar fokus. “Mol simbolnya n, massa
simbolnya g, dan volume simbolnya V.” Bram menjawab perlahan. Saya hampir
terbang ketika mendengar jawaban ini. Hati saya berbisik “Bram mulai paham.”
Saya coba beri mereka tugas sederhana. Saya sampaikan
kepada mereka, “Belum perlu menjawab soal. Tulis dulu apa yang diketahui.”
Kelompok Bram mulai bekerja. Lembar yang sebelumnya kosong perlahan mulai
terisi tulisan.
Minggu berikutnya, saya melihat perubahan kecil yang
berarti. Bram mulai menuliskan bagian “diketahui” tanpa diminta. Ia bahkan
berbisik kepada temannya, “Cari dulu angkanya… terus lihat kata di belakangnya.”
Ia tidak lagi berkata, “Saya tidak tahu harus mulai dari mana.”
Ia juga sudah
bisa berkata kepada saya, “Jadi… kalau kita sudah tahu volumenya liter, kita
tinggal bagi dengan angka 22,4 ini ya Bu supaya jadi mol?”
***
Dua minggu kemudian, Bram meminta tambahan latihan soal
untuk dikerjakan di rumah. “Bu, yang nomor tiga ini saya coba tiga kali di
rumah,” katanya sambil menunjukkan pekerjaannya. Dua soal dijawab dengan benar.
Satu soal masih salah dalam perhitungan. Namun kali ini Bram tidak malu
memperlihatkan kesalahannya. Ia sadar, keliru mengalikan massa atom bukan
karena tidak paham rumusnya tapi hanya salah hitung. Ia sudah tahu alur
berpikirnya.
Saat itulah saya melihat pembelajaran mendalam mulai tumbuh dalam
dirinya. Bram bukan sekadar mengikuti langkah yang saya berikan. Ia mulai
memahami pola berpikir dalam menyelesaikan soal. Ia berani mencoba, memperbaiki
kesalahan, dan mencari cara agar dapat memahami konsep secara mandiri.
Perubahan
terbesar terjadi pada pertemuan berikutnya. Ketika kelompoknya mendapat soal
baru, Bram berkata dengan penuh semangat kepada teman-temannya dengan logat
khasnya,
“Co
liat satuan, ini liter to..berarti kita harus bawa jadi mol dolo baru hitung
lai.”
Untuk
pertama kalinya, saya melihat sorot mata yang berbeda pada diri Bram. Bukan
sorot mata anak yang sedang berusaha menutupi ketidakpercayaandiri, melainkan
sorot mata seorang anak yang mulai menyadari bahwa dirinya mampu belajar.
Saya
mengapresiasinya di depan kelas. Bram tersenyum lebar. Kali ini senyumnya terasa
lebih ringan dan tulus.
Beberapa hari
lalu, teman-temannya berkata kepada saya, “Bu, Bram bilang dia sudah paham
konsep mol.” Hati saya tersentuh mendengarnya.
Bram mungkin belum tahu pasti akan menjadi apa 5 atau 10 tahun lagi,
namun hari itu saat ia menjelaskan konsep mol kepada temannya, satu hal yang
pasti. Masa depan yang sebelumnya ia anggap tertutup karena “otak begini” kini
telah terbuka kembali. Di ruang itu, ia tidak dipandang sebagai anak lambat. Ia
adalah murid yang sedang bertumbuh, belajar memecahkan masalah, dan mulai
percaya pada dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar