Rabu, 03 Juni 2026

 




Etika bermedia sosial yang cerdas dan bijak bagi warga SMA Negeri 13 Kupang

oleh Nonce Debora Adonis, S.Pd., Gr.

 

Saat ini media sosial sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ekosistem sekolah. Guru, tenaga kependidikan, dan murid menggunakan platform digital dalam berinteraksi setiap hari. SMA Negeri 13 Kupang yang notabene sekolah baru, tentu menggunakan media sosial sebagai media komunikasi, media promosi sekolah dan sarana membangun branding sekolah. Maraknya kasus cyber bullying, berita hoaks yang memecah belah, dan hilangnya batasan profesional antara pendidik dan murid serta kian maraknya konten-konten yang provokatif di lingkungan sekolah menjadi peringatan agar sekolah memberikan edukasi bagi warga sekolah agar menjadi warganet yang cerdas dan bijak. Oleh karena itu, sekolah memberikan pemahaman tentang literasi digital kepada semua warga sekolah melalui beberapa hal berikut ini:

1.   Menjaga etika dalam berkomunikasi dan privasi

Sekolah mendorong semua warga sekolah agar menggunakan bahasa yang sopan dan sesuai etika komunikasi antar warga sekolah. Berdasarkan panduan dari DJKN Kemenkeu, menjaga etika berkomunikasi publik di ruang siber sangat penting untuk menghindari salah paham dan menjaga nama baik institusi. SMA Negeri 13 Kupang melakukan beberapa cara. Dalam hal memberikan ketegasan dan edukasi, bagi warga sekolah yang kedapatan menggunakan bahasa yang tidak etis, maka akan mendapatkan peringatan. Bila dilakukan oleh murid, maka akan mendapatkan bimbingan guru wali. Bila dilakukan guru dan staf maka kepala sekolah memberikan teguran. Selain itu, warga sekolah diingatkan untuk tidak membagikan data pribadi seperti nomor induk, alamat rumah, atau rapor secara sembarangan di media sosial guna menjaga keamanan digital. Sekolah juga menggandeng Balai Guru dan Tenaga Kependidikan dalam memberikan edukasi tentang etika komunikasi dan privasi di ruang siber sebagai langkah menantisipasi dampak buruk.

2.   Melakukan kampanye anti kekerasan digital

Sekolah harus aktif membangun budaya anti kekerasan melalui kampanye digital anti kekerasan. Menurut imbauan dari Kemendikdasmen, generasi muda harus didorong untuk bijak bermedia sosial guna mencegah segala bentuk kekerasan di lingkungan sekolah. SMA Negeri 13 Kupang mengintegrasikan materi anti kekerasan di sekolah dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila, Bimbingan Konseling serta PIK-R, OSIS dan Pramuka. Kegiatan ini melibatkan murid dalam melakukan kampanye digital di media sosialnya . Hal ini memastikan bahwa sekolah membangun budaya yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. Sekolah juga memberikan proyek mendesain poster atau membuat video kampanye digital anti kekerasan di sekolah.


3.   Saring Sebelum Sharing untuk Tangkal Hoaks

Penyebaran berita bohong atau hoaks di grup percakapan sekolah seperti whatsapp sangat rawan memicu kepanikan warga sekolah. Berdasarkan kampanye literasi digital dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Siberkreasi, tenaga pendidik dan siswa wajib menerapkan prinsip "saring sebelum sharing". Setiap informasi yang masuk ke dalam komunitas sekolah harus divalidasi terlebih dahulu kebenarannya melalui situs resmi penangkal hoaks sebelum disebarluaskan. Dalam hal ini, Pimpinan SMA Negeri 13 Kupang selalu mendorong guru dan tendik agar mengutamakan literasi digital sebelum menyebarkan suatu informasi di grup sekolah sehingga penyebab wajib bertanggung jawab atas informasi yang disebarkan. Bagi murid, mata pelajaran Pancasila juga mengintegrasikan dalam modul ajar dan siswa langsung mempraktikan cara menyaring suatu informasi sebelum membagikan. Hal ini terbukti efektif dan mampu meningkatkan literasi digital di kalangan sekolah.

4.   Manfaatkan Media Sosial untuk Branding Positif

Media sosial harus dioptimalkan untuk memamerkan prestasi akademik maupun karya kreatif siswa. Menurut penelitian manajemen pendidikan dalam Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, pengelolaan media sosial sekolah yang kreatif terbukti efektif dalam membangun branding positif lembaga serta meningkatkan kepercayaan masyarakat luas terhadap citra satuan pendidikan tersebut. Hal ini yang dilakukan SMA Negeri 13 Kupang. Pimpinan sekolah selalu mendorong tim multimedia agar memposting setiap kegiatan sekolah minimal satu postingan setiap hari dan wajib memposting prestasi yang diraih warga sekolah di akun media sosial sekolah. Hal ini terbukti efektif dalam membangun citra positif sekolah dan sekolah makin dikenal luas oleh masyarakat. Sekolah juga memantau aktivitas pendidik dan murid di ruang digital. Sekolah menghimbau warga sekolah agar membuat konten-konten yang edukatif serta menghindari konten yang berbau provokatif dan menggiring opini publik. Hal ini tertuang dalam

5.   Profesionalisme Guru dan Staf sebagai Konten Kreator

Tidak sedikit guru dan tenaga kependidikan yang kini aktif menjadi konten kreator di media sosial pribadi mereka. Pimpinan SMA Negeri 13 Kupang menegaskan agar tenaga pendidik dan kependidikan yang aktif di ruang siber hanya memproduksi konten yang bersifat edukatif, kreatif, dan inspiratif. Guru harus menghindari pembuatan konten provokatif yang menggiring opini publik negatif atau membahas isu sensitif secara tidak bijak. Berdasarkan Surat Edaran Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) mengenai netralitas dan etika digital ASN/PPPK, seorang pendidik wajib menjaga kode etik di ruang digital karena apa yang mereka unggah melekat pada citra institusi pendidikan dan dapat memengaruhi psikologis murid.

Pada akhirnya, media sosial merupakan wadah yang netral di lingkungan sekolah, media sosial bukan hanya sekedar tren, tetapi sebuah sarana komunikasi, promosi dan membangun citra positif. Mari kita tingkatkan edukasi dan literasi digital serta membuat konten yang edukatif agar membangun ekosistem digital sekolah yang sehat menuju sekolah yang aman, nyaman dan bermartabat bagi semua warga sekolah.

 

 

Rabu, 20 Mei 2026

Cerita Pendidikan dibalik tembok SMA Negeri 13 Kupang "Ibu e... Otak Begini ni..."

 

Bram, murid kelas X berusia enam belas tahun. Ia tinggal bersama walinya di sebuah sudut Indonesia bagian tengah. Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang ceria, rajin, pekerja keras, dan suka membantu siapa saja tanpa diminta. Namun, ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya. Bram tidak pernah benar-benar bisa tenang saat pelajaran berlangsung. Ia membolak-balik halaman buku, menyapa teman di sampingnya, atau menoleh ke berbagai arah ketika guru menjelaskan.

Bukan karena ia nakal, dia sedang menghadapi kegelisahan yang berbeda. Ia mengalami kesulitan membaca. Tulisan tangannya pun sering kali sulit dipahami. Ia juga membutuhkan bantuan lebih dalam kemampuan numerasi dan penalaran.

Saya ingat diskusi kami berdua di suatu sore saat projek kimia akhir semester lalu. Di ruang guru yang mulai sepi, saya bertanya padanya “Bram, lima atau sepuluh tahun lagi, kamu ingin menjadi apa?”

Wajah cerianya mendadak berubah. Ia tertawa kecil, lalu berkata dengan logat khas daerah timur, “Ibu e… otak begini ni….”

Saya diam seribu bahasa.

Dari kalimat sederhana itu, saya seperti mendengar luka yang telah lama ia simpan. Mungkin selama bertahun-tahun ia terbiasa mendengar dirinya disebut lambat. Mungkin ia terlalu sering merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Di balik senyumnya yang lebar, ternyata ada seorang anak yang diam-diam kehilangan keyakinan terhadap dirinya sendiri.

***

Kata-kata Bram terus terngiang di telinga saya hingga beberapa waktu lalu, ketika mempersiapkan materi tentang perhitungan jumlah mol zat, saya teringat pada Bram. Hati kecil saya berkata “apa yang sebaiknya saya buat untuk membantunya?”.

Saya sadar bahwa kata-kata penyemangat saja tidak cukup untuk menghancurkan tembok keputusasaan Bram. Saya butuh peta untuk mengetahui dimana persisnya ia tersesat. Saya menyusun asesmen dengan merancang soal sederhana, satu berupa teks tanpa angka untuk melihat pemahaman literasinya dan satu lagi sekedar perkalian dasar tanpa teks untuk menguji numerasinya.

Asesmen ini bukan sekedar untuk mengetahui pengetahauannya melainkan untuk melacak titik mula kebingungan dalam literasi dan numerasinya. Hasilnya Bram ada di kelompok yang perlu intervensi khusus.

Saat diskusi, saya membagikan lembar pengayaan untuk kelompok yang sudah siap lalu memfokuskan sisa waktu saya di kelompok intervensi di mana Bram berada. Saat itu saya menemukan lembar kerja mereka yang masih kosong.

“Bagian mana yang belum kalian pahami?” Bram menunduk. “Kami tidak tahu harus mulai dari mana, Bu.” Kalimat itu membuat saya sadar bahwa masalah terbesar mereka bukan semata-mata ketidakmampuan menghitung, melainkan ketidakmampuan menemukan titik awal berpikir. Saya kemudian mendampingi mereka dengan lebih perlahan dan terarah.

Saya mulai dengan meminta mereka menulis kata “Diketahui” di bawah soal, kemudian membaca soal dengan seksama dan lingkari semua angka yang ditemukan. Tangan Bram ragu-ragu memegang pensil, matanya menyusuri deretan teks yang biasanya membuatnya frustasi sampai dia menemukan angak 0,5. Saat dia melingkarinya, ada hembusan napas legah yang pelan.

Selanjutnya saya ajak mereka memperhatikan satuan di belakang angka tersebut. “Kalau tertulis gram, berarti itu massa. Kalau liter, berarti volume,” jelas saya. Kemudian saya lanjutkan lagi, “Sekarang, coba buka kembali catatan kalian dan cocokkan simbol-simbol yang pernah dipelajari.”

Bram mulai mencocokkan informasi itu satu per satu dan ini pertama kalinya saya melihat ia benar-benar fokus. “Mol simbolnya n, massa simbolnya g, dan volume simbolnya V.” Bram menjawab perlahan. Saya hampir terbang ketika mendengar jawaban ini. Hati saya berbisik “Bram mulai paham.”

Saya coba beri mereka tugas sederhana. Saya sampaikan kepada mereka, “Belum perlu menjawab soal. Tulis dulu apa yang diketahui.” Kelompok Bram mulai bekerja. Lembar yang sebelumnya kosong perlahan mulai terisi tulisan.

Minggu berikutnya, saya melihat perubahan kecil yang berarti. Bram mulai menuliskan bagian “diketahui” tanpa diminta. Ia bahkan berbisik kepada temannya, “Cari dulu angkanya… terus lihat kata di belakangnya.” Ia tidak lagi berkata, “Saya tidak tahu harus mulai dari mana.”

Ia juga sudah bisa berkata kepada saya, “Jadi… kalau kita sudah tahu volumenya liter, kita tinggal bagi dengan angka 22,4 ini ya Bu supaya jadi mol?”

***

Dua minggu kemudian, Bram meminta tambahan latihan soal untuk dikerjakan di rumah. “Bu, yang nomor tiga ini saya coba tiga kali di rumah,” katanya sambil menunjukkan pekerjaannya. Dua soal dijawab dengan benar. Satu soal masih salah dalam perhitungan. Namun kali ini Bram tidak malu memperlihatkan kesalahannya. Ia sadar, keliru mengalikan massa atom bukan karena tidak paham rumusnya tapi hanya salah hitung. Ia sudah tahu alur berpikirnya.

Saat itulah saya melihat pembelajaran mendalam mulai tumbuh dalam dirinya. Bram bukan sekadar mengikuti langkah yang saya berikan. Ia mulai memahami pola berpikir dalam menyelesaikan soal. Ia berani mencoba, memperbaiki kesalahan, dan mencari cara agar dapat memahami konsep secara mandiri.

Perubahan terbesar terjadi pada pertemuan berikutnya. Ketika kelompoknya mendapat soal baru, Bram berkata dengan penuh semangat kepada teman-temannya dengan logat khasnya,

“Co liat satuan, ini liter to..berarti kita harus bawa jadi mol dolo baru hitung lai.”

Untuk pertama kalinya, saya melihat sorot mata yang berbeda pada diri Bram. Bukan sorot mata anak yang sedang berusaha menutupi ketidakpercayaandiri, melainkan sorot mata seorang anak yang mulai menyadari bahwa dirinya mampu belajar.

Saya mengapresiasinya di depan kelas. Bram tersenyum lebar. Kali ini senyumnya terasa lebih ringan dan tulus.

Beberapa hari lalu, teman-temannya berkata kepada saya, “Bu, Bram bilang dia sudah paham konsep mol.” Hati saya tersentuh mendengarnya.

 

Bram mungkin belum tahu pasti akan menjadi apa 5 atau 10 tahun lagi, namun hari itu saat ia menjelaskan konsep mol kepada temannya, satu hal yang pasti. Masa depan yang sebelumnya ia anggap tertutup karena “otak begini” kini telah terbuka kembali. Di ruang itu, ia tidak dipandang sebagai anak lambat. Ia adalah murid yang sedang bertumbuh, belajar memecahkan masalah, dan mulai percaya pada dirinya sendiri.

***

Jumat, 08 Mei 2026

 

Museum Negeri NTT
Ruang Belajar Kontekstual Murid SMAN 13 Kupang


Oleh: Damasius Sasi, S.Pd

Guru Mata Pelajaran Sejarah SMAN 13 Kupang

 

Sebanyak 39 orang murid Kelas X dari SMAN 13 Kupang melakukan kunjungan ke Museum Negeri NTT yang terletak di Jalan Piet A. Tallo, Walikota Baru Kupang, pada hari Rabu, 4 Maret 2026 untuk murid-murud Kelas XA dan pada hari Jumat, 6 Maret 2026 untuk murid Kelas XB. Kunjungan ini bukan kunjungan biasa melainkan bagian materi pembelajaran pada semester 2 kelas X untuk mata pelajaran Sejarah. Adapun di awal semester 2 kelas X ini, materi yang dibahas adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara. Kunjungan ini juga merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik dan penelitian lapangan dengan mitra pembelajaran terkait.

Rombongan murid melakukan kunjungan sejak pukul 14.00 WITA sampai pukul 16.00 WITA. Para murid SMAN 13 Kupang tiba di Museum Negeri NTT dan langsung disambut oleh petugas serta mengikuti pengarahan terkait tata tertib yang berlaku di museum serta pengarahan dari guru mata pelajaran Damasius Sasi, S.Pd terkait apa yang harus dilakukan oleh murid-murid selama berada di museum. Turut hadir dalam kegiatan adalah tim media SMAN 13 Kupang, Agustinus L. Sitinjak, S.Kom, Teo Erikson, S.Kom dan James Mansula, S.Pd., Gr yang adalah guru Mata Pelajaran Geografi pada SMAN 13 Kupang.


Pembelajaran lapangan ini tidak sekadar menjadi kunjungan tanpa makna ke museum, tetapi merupakan bagian dari strategi pembelajaran kontekstual agar siswa belajar langsung dari sumber sejarah, budaya, dan peradaban umat manusia khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Guru mata pelajaran Damasius Sasi, dalam arahannya mengatakan bahwa pembelajaran sejarah tidak saja dirancang dengan menekankan konsep di ruang kelas, tetapi juga membangun keterampilan siswa dalam melakukan observasi, tanya jawab dengan petugas museum, berkolaborasi dalam kelompoknya untuk menyusunan laporan, hingga melakukan presentasi.

Kepala SMAN 13 Kupang Fransiskus Ivan Rahas, S.Pd., M.Hum menyambut baik hal tersebut dan menyampaikan bahwa “Kegiatan ini bertujuan mencapai kompetensi siswa dalam melakukan pengamatan, tanya jawab, dan penyusunan laporan. Museum menjadi gambaran nyata dari bukti-bukti sejarah, budaya, sosial, ekonomi, dan kebaharian yang dapat dipelajari secara langsung oleh siswa,” ujarnya.

Sebelum kegiatan berlangsung, siswa sudah dibekali materi pada pertemuan sebelumnya dan dibagi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pokok bahasan dan sub pokok materi pembelajaran pada semester 2 kelas X. Adapun pokok bahasan yang dipelajari pada semester 2 ini adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara dengan sub pokok bahasan antara lain kehidupan masyarakat pada zaman batu tua, batu madya, batu baru dan megalitikum atau batu besar. Langkah ini dilakukan agar siswa dapat fokus mempelajari objek kajian masing-masing secara mendalam.


Metode pembelajaran lapangan seperti ini sangat penting dalam pembelajaran sejarah dan erat kaitannya dengan budaya karena sebagian bukti terbesar sejarah dan budaya berada di luar ruang kelas. Siswa harus belajar langsung dari objek dan sumbernya. Museum sudah disiapkan pemerintah sebagai ruang belajar kontekstual yang siap memberikan begitu banyak informasi tentang peradaban umat manusia,

Dalam kegiatan ini, siswa tidak sekedar mengamati koleksi museum, tetapi juga melakukan tanya jawab dengan pengelola museum guna menggali informasi secara lebih detail terkait pokok bahasan, dan sub pokok bahasan pada kelompok mereka. Hal menarik lainnya adalah kuliah lapangan ini tidak berhenti pada kunjungan selama 2 jam, melainkan setelah kegiatan di museum, siswa kembali dan berkolaborasi dengan anggota kelompoknya serta difasilitasi guru mata pelajaran untuk menuyusun laporan kunjungannya guna memperdalam tema masing-masing. Hasilnya akan disusun dalam bentuk laporan untuk dipresentasekan dengan media yang menarik.

Salah satu siswi Kelas XA Yuliana Hanita Uly mengaku mendapatkan suatu pengalaman baru dalam kegiatan ini. Kelompoknya mendapat pokok bahasan kehidupan masyarakat praaksara pada masa neolitikum atau zaman batu baru. “Saya dan tema-teman hari ini belajar di Museum NTT dan mengamati peninggalan baik dalam bentuk sejarah dan budaya. Kami dibagi dalam empat kelompok sesuai dengan pokok bahasan masing-masing, dan kelompok saya mendapatkan mendapat pokok bahasan kehidupan masyarakat praaksara pada masa neolitikum atau zaman batu baru,” ujarnya. Siswa lainnya Rizal N. Tamonob, mengatakan bahwa belajar langsung di museum memberikan pemahaman yang lebih mendalam kalau dibanding dengan hanya belajar di ruang kelas. Ia mengakui bahwa dirinya semakin memahami kehidupan masyarakat praaksara khusunya pada zaman batu tua serta manusia pendukungnya.

 

Sabtu, 04 April 2026

Jumat Agung: Menemukan Makna Kasih dan Pengorbanan di Sekolah Kita

 

Halo sahabat.

Hari ini, umat Kristiani di seluruh dunia memperingati Jumat Agung. Sebuah hari yang mungkin terasa tenang dan penuh khidmat, namun menyimpan pesan yang sangat mendalam tentang kehidupan.

Mengapa disebut "Agung" atau dalam bahasa Inggris disebut Good Friday? Padahal, hari ini memperingati peristiwa yang penuh penderitaan. Jawabannya terletak pada esensi dari peristiwa itu sendiri: Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri.

1. Belajar dari Sebuah Pengorbanan

Jumat Agung mengajarkan kita bahwa hal-hal besar seringkali membutuhkan pengorbanan. Di dunia sekolah, kita bisa melihat cerminannya dalam skala kecil:

  • Guru yang meluangkan waktu ekstra untuk membantu siswa yang kesulitan.
  • Siswa yang mau menyisihkan waktu bermainnya untuk belajar demi masa depan.
  • Teman yang mendahulukan kepentingan kelompok di atas keinginan pribadi.

2. Harapan di Tengah Kegelapan

Jumat Agung mengingatkan kita bahwa kegelapan tidak pernah menang secara permanen. Kesedihan pada hari Jumat adalah jembatan menuju kemenangan di hari Paskah. Ini adalah pesan penyemangat bagi kita semua yang mungkin sedang menghadapi tantangan, baik itu ujian yang berat, masalah pertemanan, atau rasa lelah dalam tugas dan pekerjaan sehari-hari. Selalu ada titik terang di balik setiap perjuangan.

3. Mempererat Toleransi

Momen ini juga menjadi kesempatan bagi kita semua untuk terus merawat toleransi antar umat beragama dan menghargai teman-teman yang sedang beribadah. "Kasih terbesar bukanlah saat kita menerima, melainkan saat kita mampu memberi dan berkorban untuk kepentingan bersama."

Mari Sejenak Merenung

Di sela libur hari ini, mari kita gunakan waktu untuk:

  1. Bersyukur atas segala kebaikan yang kita terima.
  2. Memaafkan kesalahan teman atau orang di sekitar kita.
  3. Berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih peduli di lingkungan sekolah.

Dan sebagai kalimat penutup, izinkan saya memberi pertanyaan refleksi untuk kita semua "Apa pengorbanan terkecil yang pernah kita lakukan?”

Selamat memperingati Jumat Agung bagi seluruh teman-teman yang merayakan. Semoga kedamaian dan kasih senantiasa menyertai langkah kita semua. (evi)

Jumat, 03 April 2026

Ruang Tamu: Saksi Janji Guru dan Orang Tua


Ruang kelas terasa sepi hari itu kala semua guru menerima surat perintah untuk melaksanakan tugas di ruang berbeda. Ya, bukan di ruang kelas, bukan di ruang guru, tapi di ruang tamu rumah siswa. 

Hal ini merupakan kali kedua dimana guru-guru yang berpangkat guru wali melaksanakan tugas yang agak sedikit berbeda. Mengantarkan rapot tengah semester ke rumah anaknya masing-masing. 

Melalui perjalanan berbeda, kami terjun menyusuri tapak-tapak kecil anak kami yang selalu menjadi arahnya melangkah setiap hari saat menjalani proses meraih mimpi. 

Bertemu dengan orang tua yang setiap harinya selalu bekerja di ladang demi membiayai kehidupan anaknya dan yang paling penting membangun komitmen bahwa anaknya adalah anakku juga. 

Di ruang yang berbeda, ku ceritakan sisi lain dari anaknya yang mungkin tak pernah diketahui olehnya. Membangun cerita bahwa tugas menuntun anaknya menggapai mimpi itu dimulai dari bagun pagi di rumah dan tidur malam di rumah pula. 

Tak lupa di ruang tamu itu, janji untuk saling menguatkan tercipta. Setidaknya sampai anak ini melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. 

Semoga dari ruang tamu ini, banyak harapan dan doa yang terjawab untuk masa depan generasi muda, untuk negeri Indonesia yang lebih baik. 

Sehat-sehat para orang tua, biar sukses anak kita jadi kebanggaanmu. 

Minggu, 25 Januari 2026

Dari ruang guru menuju ruang kelas yang lebih hidup dan bermakna

Menguatkan kompetensi guru melalui penguatan asesmen formatif dan sumatif berbasis pembelajaran mendalam.

KUPANG– Dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas dan ramah untuk semua, SMA Negeri 13 Kupang sukses menyelenggarakan workshop bertajuk "Asesmen Pembelajaran" pada Jumat, 23 Januari 2026. Acara ini menjadi langkah nyata sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mendukung pembelajaran yang lebih mendalam (Deep Learning).

Workshop ini dihadiri oleh Kepala Sekolah Fransiskus Xaverius Ivan Rahas, seluruh jajaran guru, serta menghadirkan narasumber inspiratif, Risyono, S.Pd., Gr, M.Pd, seorang Widyaiswara Ahli Muda dari Balai Guru Penggerak (BGPK) Provinsi NTT. Dengan suasana yang hangat dan penuh antusiasme, kegiatan ini menjadi momen penting bagi SMA Negeri 13 Kupang untuk terus berinovasi dalam dunia pendidikan.

Salah satu fokus utama dalam workshop ini adalah penguatan konsep Asesmen Formatif dan Sumatif dengan pendekatan Deep Learning. Risyono menjelaskan bahwa asesmen tidak hanya sekadar alat untuk memberikan nilai, tetapi juga menjadi sarana penting untuk memberikan umpan balik yang dapat memperbaiki proses belajar secara berkelanjutan."Pembelajaran dan asesmen adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Melalui asesmen yang tepat, kita dapat mendorong murid mencapai kompetensi global (6C), yaitu Karakter, Kewargaan, Kolaborasi, Komunikasi, Kreativitas, dan Berpikir Kritis," jelas Risyono dalam penyampaian materinya.

Melalui pendekatan ini, para guru diajak untuk memandang asesmen sebagai alat yang dapat mengukur sejauh mana siswa memahami materi secara mendalam, bukan hanya sekadar hafalan atau penguasaan permukaan. Workshop ini tidak hanya diisi dengan teori. Para guru juga diajak untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan interaktif. Salah satu aktivitas menarik adalah ketika mereka diminta untuk menganalisis soal-soal berbasis standar internasional PISA, seperti soal "Kecepatan Mobil Balap" dan soal logika kubus. Aktivitas ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para guru tentang bagaimana asesmen dapat dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa.

Selain itu, para peserta juga mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran lainnya seperti: Tes Awal menggunakan platform digital untuk mengukur tingkat pemahaman awal para guru mengenai asesmen. Pembuatan Peta Konsep unyuk merancang perbedaan mendalam antara asesmen formatif dan sumatif. Refleksi Kasus dalam menganalisis praktik mengajar melalui studi kasus "Pak Dani" untuk mengevaluasi teknik penilaian di kelas.

Kepala Sekolah Fransiskus Xaverius Ivan Rahas menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa workshop ini merupakan langkah penting dalam menciptakan pendidikan yang relevan dan bermakna bagi siswa. Ia juga menekankan pentingnya peran guru sebagai ujung tombak perubahan dalam dunia pendidikan.

Melalui workshop ini, SMA Negeri 13 Kupang berkomitmen untuk menerapkan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan. Para guru didorong untuk merancang aktivitas belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Contohnya adalah menghubungkan pelajaran kimia dengan penelitian limbah lingkungan atau mengaitkan pelajaran matematika dengan data dari kehidupan nyata.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi yang ditunjukkan oleh seluruh pihak yang terlibat, SMA Negeri 13 Kupang telah memulai langkah besar menuju transformasi pendidikan. Workshop ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus berinovasi demi menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, dan kompeten di era globalisasi.

Mari kita dukung bersama upaya-upaya seperti ini demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik! #PendidikanBermutu #DeepLearning #SMA13Kupang. (Maia Halle) 

Sabtu, 24 Januari 2026

SMA Negeri 13 Kupang Bangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

 

SMA Negeri 13 Kupang Perkuat Komitmen Wujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Kupang, 22 Januari 2026 — SMA Negeri 13 Kupang terus menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Hal ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam sosialisasi  penanganan dan pencegahan kekerasan di sekolah. 

Kegiatan ini menghadirkan Hendi Riswandi Ali, S.Pd.,Gr.,M.A.P., Widyaiswara Balai GTK NTT, sebagai narasumber. Dalam paparannya, Hendi menekankan pentingnya rasa aman sebagai prasyarat utama untuk pembelajaran berkualitas. Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang melindungi martabat dan hak seluruh peserta didik. “Anak-anak yang merasa tidak aman tidak akan mampu belajar secara optimal. Sekolah harus menjadi ruang yang menjunjung perlindungan dan penghargaan terhadap peserta didik,” ujarnya.

Berbagai data nasional yang dipaparkan menunjukkan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan masih menjadi tantangan serius. Hasil Asesmen Nasional 2023 mencatat bahwa lebih dari 30 persen peserta didik berpotensi mengalami perundungan, hukuman fisik, hingga kekerasan seksual. Data dari KPAI, JPPI, dan FSGI juga mengungkap adanya peningkatan kasus kekerasan di sekolah dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan pentingnya peran strategis sekolah dalam melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Dalam kegiatan tersebut, juga dibahas strategi pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan sesuai dengan Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 tentang TPPKSP dan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman. Strategi ini meliputi penguatan tata kelola sekolah, edukasi dan peningkatan kapasitas warga sekolah, penerapan budaya positif, penyediaan sarana pelaporan dan penanganan, serta pelibatan orang tua.

Sebagai wujud nyata dari komitmen ini, SMA Negeri 13 Kupang mengadakan aksi penanaman pohon bersama dengan Balai GTK NTT. Kegiatan ini tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga memperkuat karakter, kolaborasi, dan budaya sekolah yang sehat serta berkeadaban.



Kepala  SMA Negeri 13 Kupang, Fransiskus Xaverius Ivan Rahas, menegaskan bahwa sekolah akan terus berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan optimal peserta didik. “Melalui semangat kolaborasi dan kepedulian bersama, kami akan terus melangkah menuju terwujudnya sekolah ramah anak selaras dengan visi Generasi Emas Indonesia,” tuturnya.

Melalui semangat kolaborasi dan kepedulian bersama, SMA Negeri 13 Kupang terus melangkah menuju terwujudnya sekolah ramah anak selaras dengan visi Generasi Emas Indonesia. (Maia Halle)