Jumat, 08 Mei 2026

 

Museum Negeri NTT
Ruang Belajar Kontekstual Murid SMAN 13 Kupang


Oleh: Damasius Sasi, S.Pd

Guru Mata Pelajaran Sejarah SMAN 13 Kupang

 

Sebanyak 39 orang murid Kelas X dari SMAN 13 Kupang melakukan kunjungan ke Museum Negeri NTT yang terletak di Jalan Piet A. Tallo, Walikota Baru Kupang, pada hari Rabu, 4 Maret 2026 untuk murid-murud Kelas XA dan pada hari Jumat, 6 Maret 2026 untuk murid Kelas XB. Kunjungan ini bukan kunjungan biasa melainkan bagian materi pembelajaran pada semester 2 kelas X untuk mata pelajaran Sejarah. Adapun di awal semester 2 kelas X ini, materi yang dibahas adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara. Kunjungan ini juga merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik dan penelitian lapangan dengan mitra pembelajaran terkait.

Rombongan murid melakukan kunjungan sejak pukul 14.00 WITA sampai pukul 16.00 WITA. Para murid SMAN 13 Kupang tiba di Museum Negeri NTT dan langsung disambut oleh petugas serta mengikuti pengarahan terkait tata tertib yang berlaku di museum serta pengarahan dari guru mata pelajaran Damasius Sasi, S.Pd terkait apa yang harus dilakukan oleh murid-murid selama berada di museum. Turut hadir dalam kegiatan adalah tim media SMAN 13 Kupang, Agustinus L. Sitinjak, S.Kom, Teo Erikson, S.Kom dan James Mansula, S.Pd., Gr yang adalah guru Mata Pelajaran Geografi pada SMAN 13 Kupang.


Pembelajaran lapangan ini tidak sekadar menjadi kunjungan tanpa makna ke museum, tetapi merupakan bagian dari strategi pembelajaran kontekstual agar siswa belajar langsung dari sumber sejarah, budaya, dan peradaban umat manusia khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Guru mata pelajaran Damasius Sasi, dalam arahannya mengatakan bahwa pembelajaran sejarah tidak saja dirancang dengan menekankan konsep di ruang kelas, tetapi juga membangun keterampilan siswa dalam melakukan observasi, tanya jawab dengan petugas museum, berkolaborasi dalam kelompoknya untuk menyusunan laporan, hingga melakukan presentasi.

Kepala SMAN 13 Kupang Fransiskus Ivan Rahas, S.Pd., M.Hum menyambut baik hal tersebut dan menyampaikan bahwa “Kegiatan ini bertujuan mencapai kompetensi siswa dalam melakukan pengamatan, tanya jawab, dan penyusunan laporan. Museum menjadi gambaran nyata dari bukti-bukti sejarah, budaya, sosial, ekonomi, dan kebaharian yang dapat dipelajari secara langsung oleh siswa,” ujarnya.

Sebelum kegiatan berlangsung, siswa sudah dibekali materi pada pertemuan sebelumnya dan dibagi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pokok bahasan dan sub pokok materi pembelajaran pada semester 2 kelas X. Adapun pokok bahasan yang dipelajari pada semester 2 ini adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara dengan sub pokok bahasan antara lain kehidupan masyarakat pada zaman batu tua, batu madya, batu baru dan megalitikum atau batu besar. Langkah ini dilakukan agar siswa dapat fokus mempelajari objek kajian masing-masing secara mendalam.


Metode pembelajaran lapangan seperti ini sangat penting dalam pembelajaran sejarah dan erat kaitannya dengan budaya karena sebagian bukti terbesar sejarah dan budaya berada di luar ruang kelas. Siswa harus belajar langsung dari objek dan sumbernya. Museum sudah disiapkan pemerintah sebagai ruang belajar kontekstual yang siap memberikan begitu banyak informasi tentang peradaban umat manusia,

Dalam kegiatan ini, siswa tidak sekedar mengamati koleksi museum, tetapi juga melakukan tanya jawab dengan pengelola museum guna menggali informasi secara lebih detail terkait pokok bahasan, dan sub pokok bahasan pada kelompok mereka. Hal menarik lainnya adalah kuliah lapangan ini tidak berhenti pada kunjungan selama 2 jam, melainkan setelah kegiatan di museum, siswa kembali dan berkolaborasi dengan anggota kelompoknya serta difasilitasi guru mata pelajaran untuk menuyusun laporan kunjungannya guna memperdalam tema masing-masing. Hasilnya akan disusun dalam bentuk laporan untuk dipresentasekan dengan media yang menarik.

Salah satu siswi Kelas XA Yuliana Hanita Uly mengaku mendapatkan suatu pengalaman baru dalam kegiatan ini. Kelompoknya mendapat pokok bahasan kehidupan masyarakat praaksara pada masa neolitikum atau zaman batu baru. “Saya dan tema-teman hari ini belajar di Museum NTT dan mengamati peninggalan baik dalam bentuk sejarah dan budaya. Kami dibagi dalam empat kelompok sesuai dengan pokok bahasan masing-masing, dan kelompok saya mendapatkan mendapat pokok bahasan kehidupan masyarakat praaksara pada masa neolitikum atau zaman batu baru,” ujarnya. Siswa lainnya Rizal N. Tamonob, mengatakan bahwa belajar langsung di museum memberikan pemahaman yang lebih mendalam kalau dibanding dengan hanya belajar di ruang kelas. Ia mengakui bahwa dirinya semakin memahami kehidupan masyarakat praaksara khusunya pada zaman batu tua serta manusia pendukungnya.

 

1 komentar: