Museum
Negeri NTT
Ruang Belajar Kontekstual Murid SMAN 13 Kupang
Oleh: Damasius Sasi, S.Pd
Guru Mata Pelajaran Sejarah SMAN 13
Kupang
Sebanyak 39 orang
murid Kelas X dari SMAN 13 Kupang melakukan kunjungan ke Museum Negeri NTT yang
terletak di Jalan Piet A. Tallo, Walikota Baru Kupang, pada hari Rabu,
4 Maret 2026 untuk murid-murud Kelas XA dan pada hari Jumat, 6 Maret 2026 untuk
murid Kelas XB. Kunjungan ini bukan kunjungan biasa melainkan bagian materi pembelajaran
pada semester 2 kelas X untuk mata pelajaran Sejarah. Adapun di awal semester 2
kelas X ini, materi yang dibahas adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara. Kunjungan
ini juga merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik dan penelitian lapangan
dengan mitra pembelajaran terkait.
Rombongan murid melakukan kunjungan sejak pukul 14.00 WITA sampai pukul 16.00 WITA. Para murid SMAN 13 Kupang tiba di Museum Negeri NTT dan langsung disambut oleh petugas serta mengikuti pengarahan terkait tata tertib yang berlaku di museum serta pengarahan dari guru mata pelajaran Damasius Sasi, S.Pd terkait apa yang harus dilakukan oleh murid-murid selama berada di museum. Turut hadir dalam kegiatan adalah tim media SMAN 13 Kupang, Agustinus L. Sitinjak, S.Kom, Teo Erikson, S.Kom dan James Mansula, S.Pd., Gr yang adalah guru Mata Pelajaran Geografi pada SMAN 13 Kupang.
Pembelajaran lapangan
ini tidak sekadar menjadi kunjungan tanpa makna ke museum, tetapi merupakan
bagian dari strategi pembelajaran kontekstual agar siswa belajar langsung dari
sumber sejarah, budaya, dan peradaban umat manusia khususnya di Nusa Tenggara
Timur.
Guru mata pelajaran
Damasius Sasi, dalam arahannya mengatakan bahwa pembelajaran sejarah tidak saja
dirancang dengan menekankan konsep di ruang kelas, tetapi juga membangun
keterampilan siswa dalam melakukan observasi, tanya jawab dengan petugas museum,
berkolaborasi dalam kelompoknya untuk menyusunan laporan, hingga melakukan presentasi.
Kepala SMAN 13
Kupang Fransiskus Ivan Rahas, S.Pd., M.Hum menyambut baik hal tersebut dan
menyampaikan bahwa “Kegiatan ini bertujuan mencapai kompetensi siswa dalam
melakukan pengamatan, tanya jawab, dan penyusunan laporan. Museum menjadi gambaran
nyata dari bukti-bukti sejarah, budaya, sosial, ekonomi, dan kebaharian yang
dapat dipelajari secara langsung oleh siswa,” ujarnya.
Sebelum kegiatan
berlangsung, siswa sudah dibekali materi pada pertemuan sebelumnya dan dibagi
ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pokok bahasan dan sub pokok materi
pembelajaran pada semester 2 kelas X. Adapun pokok bahasan yang dipelajari pada
semester 2 ini adalah Kehidupan Masyarakat Praaksara dengan sub pokok bahasan
antara lain kehidupan masyarakat pada zaman batu tua, batu madya, batu baru dan
megalitikum atau batu besar. Langkah ini dilakukan agar siswa dapat fokus
mempelajari objek kajian masing-masing secara mendalam.
Metode pembelajaran lapangan seperti ini sangat penting dalam pembelajaran sejarah dan erat kaitannya dengan budaya karena sebagian bukti terbesar sejarah dan budaya berada di luar ruang kelas. Siswa harus belajar langsung dari objek dan sumbernya. Museum sudah disiapkan pemerintah sebagai ruang belajar kontekstual yang siap memberikan begitu banyak informasi tentang peradaban umat manusia,
Dalam kegiatan ini,
siswa tidak sekedar mengamati koleksi museum, tetapi juga melakukan tanya jawab
dengan pengelola museum guna menggali informasi secara lebih detail terkait pokok
bahasan, dan sub pokok bahasan pada kelompok mereka. Hal menarik lainnya adalah
kuliah lapangan ini tidak berhenti pada kunjungan selama 2 jam, melainkan setelah
kegiatan di museum, siswa kembali dan berkolaborasi dengan anggota kelompoknya
serta difasilitasi guru mata pelajaran untuk menuyusun laporan kunjungannya
guna memperdalam tema masing-masing. Hasilnya akan disusun dalam bentuk laporan
untuk dipresentasekan dengan media yang menarik.




👏👏
BalasHapus