Tentang Yuliana dan Luka yang Tak Terucap
Yuliana, gadis 16 tahun
yang cantik, menjalani kehidupan hampir sempurna. Ia memiliki kekasih yang
mencintainya, keluarga yang mengasihinya, dan prestasi gemilang di SMA Negeri 13 Kupang.
Hidupnya penuh kebahagiaan dan kesuksesan menjadi idaman banyak remaja. Sebagai
generasi milenial di pusat kota, Yuliana menikmati kemudahan hidup modern. Ia
sering membagikan momen liburan bersama orang-orang tercinta di media sosial,
menarik perhatian banyak pengikut. Hidupnya seolah sempurna: penuh cinta,
dukungan, pendidikan berkualitas, dan kenangan indah yang menghiasi harinya.
Namun, di balik lapisan
kilau itu, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Yuliana duduk termenung di
tepi jendela, menyaksikan hujan yang turun perlahan. Hatinya terasa sekelabu
langit mendung di luar. Hidupnya yang tampak sempurna di mata orang-orang hanya
menyembunyikan rapuhnya ia di dalam. Ia mendambakan sesuatu yang nyata, yang
membuatnya merasa hidup—bukan rutinitas kosong atau senyuman palsu. Ia ingin
lepas dari ekspektasi dan menemukan kebahagiaan sejati. Tapi di mana? Bagaimana
caranya? Yuliana merasa kosong, hampa.
Setiap pagi ia terbangun dengan perasaan bahwa ia sedang memainkan peran yang
membosankan. Semua terasa datar, tak ada lagi lonjakan emosi, baik itu
kebahagiaan yang membuncah atau kesedihan yang menusuk. Ia hanya... ada.
Kekosongan itu perlahan
menjelma menjadi kabut tebal yang mencekiknya. Ia mulai mempertanyakan
segalanya: Untuk apa semua ini? Apa gunanya bekerja keras jika ujungnya hanya
akan kembali ke titik hampa ini?
Pada
sebuah pagi yang dingin di bulan November, Yuliana membuat sebuah keputusan
besar yang akan mengubah hidupnya. Berada dalam jerat penjara eksistensial yang
tak kasat mata tetapi ia ciptakan sendiri, Yuliana merasa hanya ada satu cara
untuk membebaskan dirinya. Dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan
segenggam pil tidur dari kotak kecil di lemari obat. Pil-pil mungil itu
terlihat begitu sederhana, tetapi bagi Yuliana, mereka menyimpan janji akan
kedamaian abadi yang telah lama ia idamkan.
Tanpa ragu, ia menelan
pil-pil tersebut dengan segelas air yang menyegarkan. Setelah itu, tubuhnya
terbaring di atas ranjang, sedangkan matanya terpejam rapat, sambil berharap
tak perlu membuka kelopak matanya lagi. Dalam benaknya, tergambar keinginan
untuk menghanyutkan diri di tengah keheningan paripurna, lepas dari beban
tekanan untuk merasa bahagia, berhasil, atau sekadar menjalani kehidupan yang
terasa begitu menghimpit. Dalam kesunyian mutlak itulah, Yuliana berharap dapat
menemukan kedamaian yang selama ini terus menguap dari jiwanya.
Terjaga di
Ruang yang Tak Bernama
Dindingnya berwarna
hijau mint pucat, dan bau antiseptik menusuk hidung. Samar-samar, suara
dengungan alat medis terdengar.
Yuliana mengerjap,
merasakan lidahnya kelu dan tenggorokannya kering. Ia mencoba bergerak, tapi
lengannya terasa berat dan tertancap jarum infus. Bingung, ia menoleh ke
samping. Ia tidak berada di rumahnya.
Seorang perawat dengan
seragam putih menghampirinya dengan senyum tipis.
Aduh, Yuliana, selamat
datang balé e… syukur ko su sadar.” kata perawat itu lembut.
Yuliana menatapnya
dengan pandangan kosong. "beta dimana?"
“Nona ada di rumah sakit
jiwa. Dua hari lalu dong temukan Nona pingsan di kamar.."
Rumah sakit jiwa. Yuliana
menelan ludah. Ia gagal. Rasa frustrasi bercampur kekalahan membanjiri dirinya.
Tak lama kemudian,
seorang dokter paruh baya dengan kacamata bingkai tebal memasuki ruangan. Ia
memperkenalkan diri sebagai Dr. Ello, psikiaternya.
Setelah menjelaskan
proses pemulihannya, Dr. Ello duduk di kursi di sebelah ranjang dan menatap Yuliana
dengan tatapan penuh empati.
"Yuliana,"
ujarnya pelan, " “Beta musti bilang sesuatu yang serius, e.
Dari hasil periksa ko pung badan, habis ko minum pil banyak sekali itu... ada
rusak parah di dalam, Nona."
Jantung Yuliana berdebar
kencang. Ia menunggu, tak mampu berkata-kata.
Dokter itu menghela
napas. “Secara medis, Nona, ko pung waktu hidup tinggal sedikit lai.”
Dalam Detik
yang Semakin Menyempit
Kabar itu seharusnya
membuatnya bahagia. Kematian yang ia cari kini datang padanya, tanpa harus
berusaha lagi. Tapi anehnya, kata-kata dokter itu justru memicu sesuatu yang
belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan: keterkejutan yang nyata, rasa
takut yang menusuk, dan... penyesalan.
Yuliana menghabiskan
malam itu merenung. Ia telah menyia-nyiakan 16 tahun hidupnya yang sempurna
untuk mengejar citra yang ia pikir ia inginkan. Dan kini, di detik-detik terakhir
yang ia punya, ia baru menyadari betapa berharganya setiap tarikan napas,
setiap sapaan, setiap sinar matahari.
“Dok, beta mau keluar
sebentar, bisa ka?”tanyanya keesokan harinya.
Dr. Ello memberinya
izin, dengan pengawasan ketat. Yuliana tahu ia tak punya waktu untuk terapi,
untuk penyesalan yang berlarut-larut. Ia punya waktu untuk bertindak.
Ia menelepon kekasihnya,
bukan untuk putus, tapi untuk mengatakan betapa ia mencintainya, tanpa syarat,
untuk pertama dan terakhir kalinya.
Ia menelepon ibunya,
bukan untuk menangis, tapi untuk mengucapkan terima kasih atas semua bekal
hidup yang telah diberikan.
Ia bahkan mendatangi
sekolahnya, bukan untuk menghapus namanya dari DAPODIK, melainkan untuk
memberikan apresiasi dan senyum tulus kepada guru-guru serta teman-temannya
yang selalu mendampinginya selama ini di sekolah. Ia juga menyempatkan diri
meminta maaf kepada seorang teman yang sering menjadi korban perlakuan tidak
adil darinya
Dalam sisa waktu yang
sempit itu, Yuliana memilih untuk hidup, bukan sekadar ada. Ia duduk di taman
rumah sakit, membiarkan angin November yang dingin menyentuh kulitnya,
merasakan tekstur daun yang gugur. Ia mendengarkan tawa anak-anak dari
kejauhan, dan untuk pertama kalinya, ia menemukan makna dalam suara itu.
Ia menyadari bahwa
kesempurnaan hidupnya selama ini bukanlah pada hal-hal besar—prestasi ,uang,
atau kekasih—melainkan pada kemampuan untuk merasakan hal-hal kecil. Kebosanan
dan kehampaan yang ia rasakan dulu bukanlah karena hidupnya kurang, tapi karena
ia berhenti memperhatikan hidupnya.
Ketika Akhir
Tak Seindah Harapan
Hari keempat. Yuliana
terbaring lemah. Keluarganya berkumpul, tangisan tertahan di udara. Ia memegang
tangan ibunya dan kekasihnya.
Ia tersenyum, senyum
yang berbeda dari senyum selfie-nya dulu. Senyum itu tulus, penuh kedamaian. Ia
tidak lagi menyesal gagal bunuh diri; ia menyesal telah menyia-nyiakan waktu
yang begitu banyak. Tapi ia bersyukur, bahkan kegagalan itu telah memberinya
beberapa hari paling bermakna dalam hidupnya.
Yuliana menutup
matanya—dan segalanya pun hening
Kehidupan Yuliana hanya
berjalan 16 tahun dan beberapa hari.
Tapi dalam hari-hari terakhir itu, ia berhasil menemukan apa yang selama ini
hilang: alasan untuk mencintai kehidupannya yang tidak sempurna. Ia akhirnya
berdamai.
Kematian tidak lagi terasa sebagai keheningan yang dicari, melainkan sebagai akhir dari sebuah perjalanan yang, meskipun singkat, akhirnya ia jalani dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Yuliana yang pergi bukanlah Yuliana yang hampa, melainkan Yuliana yang akhirnya merasa hidup.
By Maia Halle
Tidak ada komentar:
Posting Komentar