Selasa, 14 Oktober 2025

Tentang Yuliana dan Luka yang Tak Terucap

 

Cerpen

Tentang Yuliana dan Luka yang Tak Terucap

​Yuliana, gadis 16 tahun yang cantik, menjalani kehidupan hampir sempurna. Ia memiliki kekasih yang mencintainya, keluarga yang mengasihinya, dan  prestasi gemilang di SMA Negeri 13 Kupang. Hidupnya penuh kebahagiaan dan kesuksesan menjadi idaman banyak remaja. Sebagai generasi milenial di pusat kota, Yuliana menikmati kemudahan hidup modern. Ia sering membagikan momen liburan bersama orang-orang tercinta di media sosial, menarik perhatian banyak pengikut. Hidupnya seolah sempurna: penuh cinta, dukungan, pendidikan berkualitas, dan kenangan indah yang menghiasi harinya.​

Namun, di balik lapisan kilau itu, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Yuliana duduk termenung di tepi jendela, menyaksikan hujan yang turun perlahan. Hatinya terasa sekelabu langit mendung di luar. Hidupnya yang tampak sempurna di mata orang-orang hanya menyembunyikan rapuhnya ia di dalam.  Ia mendambakan sesuatu yang nyata, yang membuatnya merasa hidup—bukan rutinitas kosong atau senyuman palsu. Ia ingin lepas dari ekspektasi dan menemukan kebahagiaan sejati. Tapi di mana? Bagaimana caranya?  Yuliana merasa kosong, hampa. Setiap pagi ia terbangun dengan perasaan bahwa ia sedang memainkan peran yang membosankan. Semua terasa datar, tak ada lagi lonjakan emosi, baik itu kebahagiaan yang membuncah atau kesedihan yang menusuk. Ia hanya... ada.

​Kekosongan itu perlahan menjelma menjadi kabut tebal yang mencekiknya. Ia mulai mempertanyakan segalanya: Untuk apa semua ini? Apa gunanya bekerja keras jika ujungnya hanya akan kembali ke titik hampa ini?

Pada sebuah pagi yang dingin di bulan November, Yuliana membuat sebuah keputusan besar yang akan mengubah hidupnya. Berada dalam jerat penjara eksistensial yang tak kasat mata tetapi ia ciptakan sendiri, Yuliana merasa hanya ada satu cara untuk membebaskan dirinya. Dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan segenggam pil tidur dari kotak kecil di lemari obat. Pil-pil mungil itu terlihat begitu sederhana, tetapi bagi Yuliana, mereka menyimpan janji akan kedamaian abadi yang telah lama ia idamkan.

Tanpa ragu, ia menelan pil-pil tersebut dengan segelas air yang menyegarkan. Setelah itu, tubuhnya terbaring di atas ranjang, sedangkan matanya terpejam rapat, sambil berharap tak perlu membuka kelopak matanya lagi. Dalam benaknya, tergambar keinginan untuk menghanyutkan diri di tengah keheningan paripurna, lepas dari beban tekanan untuk merasa bahagia, berhasil, atau sekadar menjalani kehidupan yang terasa begitu menghimpit. Dalam kesunyian mutlak itulah, Yuliana berharap dapat menemukan kedamaian yang selama ini terus menguap dari jiwanya.

Terjaga di Ruang yang Tak Bernama

​Dindingnya berwarna hijau mint pucat, dan bau antiseptik menusuk hidung. Samar-samar, suara dengungan alat medis terdengar.

​Yuliana mengerjap, merasakan lidahnya kelu dan tenggorokannya kering. Ia mencoba bergerak, tapi lengannya terasa berat dan tertancap jarum infus. Bingung, ia menoleh ke samping. Ia tidak berada di rumahnya.

​Seorang perawat dengan seragam putih menghampirinya dengan senyum tipis.

Aduh, Yuliana, selamat datang balé e… syukur ko su sadar.” kata perawat itu lembut.

​Yuliana menatapnya dengan pandangan kosong. "beta dimana?"

“Nona ada di rumah sakit jiwa. Dua hari lalu dong temukan Nona pingsan di kamar.."

​Rumah sakit jiwa. Yuliana menelan ludah. Ia gagal. Rasa frustrasi bercampur kekalahan membanjiri dirinya.

​Tak lama kemudian, seorang dokter paruh baya dengan kacamata bingkai tebal memasuki ruangan. Ia memperkenalkan diri sebagai Dr. Ello, psikiaternya.

​Setelah menjelaskan proses pemulihannya, Dr. Ello duduk di kursi di sebelah ranjang dan menatap Yuliana dengan tatapan penuh empati.

​"Yuliana," ujarnya pelan, " “Beta musti bilang sesuatu yang serius, e. Dari hasil periksa ko pung badan, habis ko minum pil banyak sekali itu... ada rusak parah di dalam, Nona."

​Jantung Yuliana berdebar kencang. Ia menunggu, tak mampu berkata-kata.

​Dokter itu menghela napas. “Secara medis, Nona, ko pung waktu hidup tinggal sedikit lai.”

Dalam Detik yang Semakin Menyempit

​Kabar itu seharusnya membuatnya bahagia. Kematian yang ia cari kini datang padanya, tanpa harus berusaha lagi. Tapi anehnya, kata-kata dokter itu justru memicu sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan: keterkejutan yang nyata, rasa takut yang menusuk, dan... penyesalan.

​Yuliana menghabiskan malam itu merenung. Ia telah menyia-nyiakan 16 tahun hidupnya yang sempurna untuk mengejar citra yang ia pikir ia inginkan. Dan kini, di detik-detik terakhir yang ia punya, ia baru menyadari betapa berharganya setiap tarikan napas, setiap sapaan, setiap sinar matahari.

“Dok, beta mau keluar sebentar, bisa ka?”tanyanya keesokan harinya.

​Dr. Ello memberinya izin, dengan pengawasan ketat. Yuliana tahu ia tak punya waktu untuk terapi, untuk penyesalan yang berlarut-larut. Ia punya waktu untuk bertindak.

​Ia menelepon kekasihnya, bukan untuk putus, tapi untuk mengatakan betapa ia mencintainya, tanpa syarat, untuk pertama dan terakhir kalinya.

​Ia menelepon ibunya, bukan untuk menangis, tapi untuk mengucapkan terima kasih atas semua bekal hidup yang telah diberikan.

​Ia bahkan mendatangi sekolahnya, bukan untuk menghapus namanya dari DAPODIK, melainkan untuk memberikan apresiasi dan senyum tulus kepada guru-guru serta teman-temannya yang selalu mendampinginya selama ini di sekolah. Ia juga menyempatkan diri meminta maaf kepada seorang teman yang sering menjadi korban perlakuan tidak adil darinya

​Dalam sisa waktu yang sempit itu, Yuliana memilih untuk hidup, bukan sekadar ada. Ia duduk di taman rumah sakit, membiarkan angin November yang dingin menyentuh kulitnya, merasakan tekstur daun yang gugur. Ia mendengarkan tawa anak-anak dari kejauhan, dan untuk pertama kalinya, ia menemukan makna dalam suara itu.

​Ia menyadari bahwa kesempurnaan hidupnya selama ini bukanlah pada hal-hal besar—prestasi ,uang, atau kekasih—melainkan pada kemampuan untuk merasakan hal-hal kecil. Kebosanan dan kehampaan yang ia rasakan dulu bukanlah karena hidupnya kurang, tapi karena ia berhenti memperhatikan hidupnya.

Ketika Akhir Tak Seindah Harapan

​Hari keempat. Yuliana terbaring lemah. Keluarganya berkumpul, tangisan tertahan di udara. Ia memegang tangan ibunya dan kekasihnya.

​Ia tersenyum, senyum yang berbeda dari senyum selfie-nya dulu. Senyum itu tulus, penuh kedamaian. Ia tidak lagi menyesal gagal bunuh diri; ia menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang begitu banyak. Tapi ia bersyukur, bahkan kegagalan itu telah memberinya beberapa hari paling bermakna dalam hidupnya.

Yuliana menutup matanyadan segalanya pun hening

​Kehidupan Yuliana hanya berjalan 16  tahun dan beberapa hari. Tapi dalam hari-hari terakhir itu, ia berhasil menemukan apa yang selama ini hilang: alasan untuk mencintai kehidupannya yang tidak sempurna. Ia akhirnya berdamai.

​Kematian tidak lagi terasa sebagai keheningan yang dicari, melainkan sebagai akhir dari sebuah perjalanan yang, meskipun singkat, akhirnya ia jalani dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Yuliana yang pergi bukanlah Yuliana yang hampa, melainkan Yuliana yang akhirnya merasa hidup.

By Maia Halle

Tidak ada komentar:

Posting Komentar